TVRINews-Jakarta
Bantuan Darurat Mengalir di Tengah Ancaman Ribuan Gempa Susulan.
Perum Bulog mengerahkan langkah cepat merespons darurat kemanusiaan akibat bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah situasi yang masih diliputi ribuan gempa susulan, lembaga logistik negara tersebut memastikan pasokan pangan bagi warga terdampak tersalurkan secara masif dan terstruktur.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwa realisasi distribusi pangan darurat hingga 2 September 2026 telah mencapai angka 1.321.550 kilogram beras.
Bantuan tersebut difokuskan ke tujuh wilayah administratif kabupaten dan kota yang mengalami dampak terparah, meliputi Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, hingga Sikka.
"Kami melaporkan ringkasan penyaluran bantuan bencana; total realisasi hingga hari ini untuk komoditas beras telah mencapai 1.321.550 kilogram," ujar Rizal dalam keterangan pers di Jakarta.
Komposisi logistik kemanusiaan ini bersumber dari Cadangan Beras Pemerintah untuk Bencana Alam sebesar 881.980 kilogram, Cadangan Pangan Pemerintah Daerah sejumlah 101.800 kilogram, serta alokasi bantuan pangan terpadu.
Selain beras, Bulog turut mendistribusikan sekitar 7.000 liter minyak goreng merek Minyakita guna mencakup kebutuhan esensial masyarakat di posko-posko pengungsian.
Distribusi logistik ini menghadapi tantangan geografis dan psikologis yang tidak ringan, mengingat aktivitas kegempaan belum sepenuhnya mereda. Catatan institusi terkait menunjukkan lebih dari 10.800 kali gempa susulan terus mengguncang kawasan tersebut sejak bencana utama terjadi. Kendati demikian, sinergi lintas sektoral bersama pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, jajaran TNI, Polri, serta aparat desa terbukti mampu menjaga kelancaran jalur distribusi.
"Alhamdulillah, penyaluran berjalan dengan baik dan lancar. Hampir di seluruh titik, kebutuhan logistik warga terdampak dapat terpenuhi tanpa terkecuali," imbuh Rizal menegaskan efektivitas operasional di lapangan.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, Bulog menyiagakan jaringan infrastruktur logistik yang mencakup 46 unit gudang di seluruh wilayah NTT dengan kapasitas total mencapai 50.400 ton. Saat ini, ketersediaan stok riil di gudang-gudang tersebut berada pada posisi aman sekitar 24.134 ton.
Guna menjamin kesinambungan rantai pasok, Bulog juga mengoordinasikan pengiriman tambahan cadangan beras lintas wilayah secara masif. Pasokan baru tersebut didatangkan langsung dari Kantor Wilayah Banten sebanyak 3.000 ton, Jawa Timur sejumlah 20.296 ton, Sulawesi Selatan sebesar 8.550 ton, serta Nusa Tenggara Barat sebanyak 35.250 ton.
Pemerintah pusat melalui Bulog menerapkan skema respons cepat dengan mendirikan cadangan darurat terpusat di simpul-simpul transportasi strategis. Sebanyak 10 ton beras disiagakan secara khusus di kawasan bandara dan pelabuhan guna mengantisipasi kebutuhan mendesak yang memerlukan intervensi kilat.
Lebih lanjut, otoritas pangan nasional membuka ruang eskalasi bagi pemerintah daerah di tujuh wilayah terdampak untuk mengajukan tambahan kuota logistik jika dinamika kebutuhan di lapangan terus meningkat. Kebijakan ini dirancang dengan mekanisme pengiriman ganda sebagai langkah mitigasi krisis lanjutan bagi masyarakat penyintas.









