TVRINews, Yahukimo
Pesawat perintis milik PT Associated Mission Aviation (AMA) dengan registrasi PK-RCY mengalami insiden di Lapangan Terbang Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis, 2 Juli 2026. Pilot pesawat, Nicholas F. Goselin, dilaporkan meninggal dunia, sementara tujuh penumpang selamat.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lapangan Terbang Balinggama berada di Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan pesawat perintis tersebut dalam kondisi terbakar.
Kepala Bagian Humas dan Umum Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Endah Purnama Sari, mengatakan laporan awal dari Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Wamena telah diterima. Laporan itu menyebut pilot pesawat, Nicholas F. Goselin, meninggal dunia.
Sementara itu, TNI melaporkan Nicholas F. Goselin alias Mark, pilot pesawat jenis Pilatus milik Associated Mission Aviation (AMA), tewas dalam aksi pembakaran yang diduga dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM).
“Berdasarkan laporan sementara yang diterima dari masyarakat setempat, pilot pesawat, Nicholas F. Goselin alias Mark, warga negara Amerika Serikat, dilaporkan meninggal dunia,” kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel (Inf) Tri Purwanto dalam keterangannya, Kamis, 2 Juli 2026.
Meski demikian, TNI belum dapat memastikan penyebab kematian korban karena proses penyelidikan masih berlangsung.
Tri mengatakan tujuh penumpang yang seluruhnya merupakan Orang Asli Papua (OAP) dilaporkan selamat dan dalam kondisi aman.
“Hingga saat ini aparat masih terus melakukan koordinasi intensif dengan operator penerbangan, pemerintah daerah, serta instansi terkait guna memperoleh informasi yang lebih lengkap dan terverifikasi,” ucap Tri.
“Termasuk memastikan kronologi kejadian, kondisi para penumpang, serta perkembangan situasi keamanan di lokasi,” imbuh dia.
Menurut Tri, insiden tersebut menjadi perhatian serius karena penerbangan perintis merupakan sarana vital yang menghubungkan wilayah pedalaman Papua dengan layanan pemerintahan, kesehatan, pendidikan, serta distribusi logistik.
“Kami masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya sambil menunggu hasil penyelidikan resmi,” kata dia.
Di sisi lain, Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz menduga pesawat perintis PT AMA registrasi PK-RCY dibakar oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Dugaan itu muncul karena kecil kemungkinan warga menyerang sarana transportasi utama yang menghubungkan masyarakat Balinggama dengan wilayah lain.
“Patut diduga ya. Karena kalau masyarakat sipil biasa, kayaknya enggak mungkin mereka akan melakukan penyerangan terhadap satu-satunya sarana transportasi yang dapat menjadi penghubung masyarakat di Balingga ke dunia luar gitu,” kata Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo kepada wartawan di Posko Operasi Damai Cartenz, Kamis, 2 Juli 2026.
Yusuf menjelaskan transportasi udara menjadi akses vital bagi masyarakat mengingat kondisi geografis Papua yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Karena masyarakat sipil terutama pasti akan membutuhkan sarana itu. Jadi patut diduga. Kita belum bisa pastikan karena kita belum mendatangi TKP, belum olah TKP, belum mengumpulkan keterangan dan barang bukti yang ada,” ujarnya.
Operasi Damai Cartenz telah menyiapkan langkah evakuasi dan dijadwalkan menuju lokasi pada Jumat (3/7) untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengumpulkan keterangan.
“Kurang lebih tiga peleton,” ujar Yusuf saat ditanya jumlah personel yang diterjunkan.
Ia menambahkan, personel akan bergerak dari Wamena sebagai pos utama dengan dukungan tambahan dari Timika dan Yahukimo.
Pesawat PK-RCY diketahui membawa satu pilot dan tujuh penumpang. Pesawat lepas landas dari Bandara Wamena pada Kamis, 2 Juli 2026, pukul 06.30 WIT dan mendarat di Lapangan Terbang Balinggama pada pukul 06.46 WIT. Setelah pilot melaporkan pesawat telah mendarat, komunikasi dengan pos lapangan terbang terputus. Hingga kini, penyebab pasti insiden masih menunggu hasil penyelidikan aparat.










