TVRINews, Jakarta
Direktur Utama (Dirut) LPP TVRI sekaligus Ketua Umum ICCN Fiki Satari mengaku bangga karena Indonesia terpilih menjadi tuan rumah acara Ekonomi Kreatif Dunia ke-5 atau World Conference on Creative Economy (WCCE).
“Pasti berbangga Indonesia bisa menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy (WCCE) yang kelima. (Di mana) Ini kali ketiga setelah (Indonesia menjadi tuan rumah WCCE, mulai dari) di Bali dua kali ya, yang ke-1, ketiga, dan ini kelima,” kata dia di Jakarta pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Lebih lanjut, ia juga mengapresiasi dukungan penuh LPP TVRI dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Salah satu bentuk dukungan itu diwujudkan melalui penyediaan studio mini serta kolaborasi dengan jejaring komunitas kreatif di seluruh Indonesia dalam menghadirkan sesi Suara Ekraf dari Daerah.
Menurutnya, keterlibatan komunitas daerah menjadi penting agar aspirasi para pelaku ekonomi kreatif dapat didengar dalam forum ekonomi kreatif berskala internasional.
“Penting untuk didengarkan bagaimana teman-teman daerah ini hadir, suaranya didengar di forum ekonomi kreatif terbesar di dunia, dalam hal konferensinya,” katanya.
Ia menjelaskan, kolaborasi tersebut melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem heksaheliks, yakni akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, media, dan agregator.
Melalui kerja sama dengan TVRI, ICCN telah menyelenggarakan 38 dialog atau gelar wicara bersama koordinator daerah di stasiun TVRI daerah.
Lebih lanjut, ia menuturkan jika hasil dari rangkaian diskusi tersebut kemudian dikonsolidasikan menjadi Manifesto Suara Ekraf Indonesia yang diserahkan kepada Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya.
“Jadi inti dari kegiatan itu adalah sekali lagi, di event dunia pun suara jejaring, grassroots, ini didengar. Dan yang paling penting, telah diserahkan,” tutur Fiki.
Ia berharap manifesto tersebut tidak berhenti sebagai dokumen aspirasi, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi rencana aksi dan diwujudkan melalui program konkret yang terukur.
“Harapannya manifesto ini menjadi rencana aksi, dari rencana aksi ini menjadi aksi nyata yang konkret, yang kita ingin ukur mudah-mudahan bisa menghadirkan suatu hal membangun kemandirian jejaring, membangun yang berkelanjutan dan berdampak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fiki menjelaskan bahwa kolaborasi antara ICCN dan berbagai pemangku kepentingan sebenarnya telah berjalan dalam sejumlah program. Salah satunya melalui penyelenggaraan sesi Suara Ekraf dari Daerah bersama TVRI yang memberikan ruang bagi komunitas untuk menyampaikan gagasan dan potensi ekonomi kreatif daerah.
Selain itu, ICCN juga bekerja sama dengan kalangan akademisi dalam mengembangkan Indeks Kabupaten/Kota Kreatif. Inisiatif tersebut menghubungkan kajian akademis dengan pengalaman para pelaku ekonomi kreatif untuk membantu pemerintah daerah menentukan arah pembangunan berbasis potensi lokal.
Melalui indeks tersebut, pemerintah daerah dapat mengidentifikasi subsektor ekonomi kreatif unggulan serta kebutuhan pengembangan sumber daya manusia, ekosistem, pasar, riset, dan produksi.
“Dilihat mana sektor yang unggulan, mana daerah yang sebetulnya harus dikuatkan dari sisi SDM, dari sisi ekosistemnya, dari sisi pasarnya, dari sisi risetnya, dari sisi produksinya. Itu bentuk-bentuk kolaborasi yang terjadi,” jelasnya.
Fiki menambahkan, ICCN juga memiliki program Catha Ekadasa, yang memuat 11 jurus pengembangan kota kreatif sebagai rujukan bagi pemerintah kabupaten dan kota dalam mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif berbasis kekuatan lokal.
Menurutnya, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi antara komunitas, akademisi, media, dan pemerintah dapat membantu daerah mengidentifikasi keunggulan serta merumuskan strategi pengembangan ekonomi kreatif yang lebih terarah.
Melalui WCCE ke-5 dan Manifesto Suara Ekraf Indonesia, Fiki berharap aspirasi dari daerah dapat menjadi bagian dari agenda ekonomi kreatif global sekaligus mendorong terwujudnya ekosistem kreatif Indonesia yang mandiri, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat.










