TVRINews – Jakarta
Presiden Prabowo Subianto menyoroti perjuangan anak-anak dari keluarga prasejahtera yang bangkit melalui program Sekolah Rakyat dalam Sidang Tahunan MPR 2026.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadirkan kisah-kisah ketangguhan anak dari latar belakang prasejahtera dalam Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat 14 Agustus 2026. Di hadapan para pejabat tinggi negara, kepala negara menegaskan bahwa akses pendidikan adalah instrumen utama pemutus rantai kemiskinan.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo memanggil dua anak penerima manfaat dari program unggulan pemerintah, yakni Sekolah Rakyat. Mereka adalah Muhammad Risky Pratama, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan, Sumatra Utara, dan Citra Nur Ramadhani, pelajar sekolah dasar asal daerah. Kehadiran kedua anak tersebut memberikan dimensi humanis dalam agenda kenegaraan tahunan tersebut.
Risky, yang kini berusia 12 tahun, pernah menghadapi masa-masa sulit ketika harus berhenti mengenyam pendidikan formal. Sebelum bergabung dengan Sekolah Rakyat, ia harus menempuh perjalanan bersepeda sejauh puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual demi membantu perekonomian keluarga.

[Preasiden Prabowo Saat Memperkenalan Muhammad Risky Pratama, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan, Sumatra Utara di Gedung MPR RI (Foto: Youtube Setpres)]
"Rizky pernah mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual. Bayangkan badan seperti ini, naik sepeda bawa 30 kilogram ikan, luar biasa kau Rizky, kau anak baik," ujar Presiden Prabowo di hadapan para peserta sidang.
Kepala negara menambahkan, selain mengalami putus sekolah, anak tersebut sempat menghadapi kendala dalam kemampuan dasar membaca dan berhitung. Melalui intervensi program pendidikan inklusif ini, hak konstitusional anak tersebut untuk mendapatkan pengajaran yang layak akhirnya dapat pulih kembali.
"Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak," ucap Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah terhadap sektor pendidikan.
Selain Risky, sorotan juga diberikan kepada Citra Nur Ramadhani, pelajar kelas empat sekolah dasar berusia 10 tahun. Citra hampir terpaksa meninggalkan bangku sekolah demi membantu ibunya yang merupakan penyandang disabilitas untuk berjualan kacang, setelah sang ayah wafat dunia. Kehadiran fasilitas pendidikan tersebut memungkinkan Citra untuk tetap mengejar ilmu tanpa harus mengabaikan tanggung jawab keluarganya.
Di tengah perjuangan hidup yang berat, anak tersebut menunjukkan prestasi gemilang dengan meraih gelar juara pertama dalam kejuaraan karate tingkat kabupaten. Dalam suasana sidang yang cair, Presiden Prabowo sempat melontarkan candaan hangat kepada siswi tersebut.
"Nanti 10 tahun lagi lah kau boleh pacaran. Makanya Citra, kau boleh pacaran setelah sabuk hitam karatemu jadi, supaya tidak ada yang berani main-main sama kau," tutur Presiden yang disambut senyum para peserta sidang.
Pemerintah melaporkan bahwa perluasan akses pendidikan dasar berbasis kerakyatan ini terus menunjukkan progres signifikan. Sejauh ini, sebanyak 93 unit Sekolah Rakyat permanen telah beroperasi secara resmi, ditambah dengan 182 unit sekolah rintisan di berbagai wilayah untuk menjangkau anak-anak dari kelompok rentan. Program ini dirancang sebagai langkah strategis negara dalam menjamin kesetaraan kesempatan belajar bagi seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.










