TVRINews, Jakarta
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Pancasila menegaskan nilai-nilai universal sebagai fondasi bangsa yang juga relevan bagi dunia.
“Dengan tren dunia akan maraknya xenophobia, Pancasila yang didasari penghormatan terhadap martabat manusia dan semangat gotong royong semakin penting untuk diaktualisasikan secara nyata dan konsisten dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” kata Matius, dikutip dari siaran persnya, Minggu, 31 Mei 2026.
Ia menuturkan Pancasila termaktub dalam alinea terakhir Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang alinea pertamanya dimulai dengan menegaskan nilai-nilai universal sebagai fondasi, seperti kemerdekaan, perikemanusiaan, dan perikeadilan.
Tiga tahun kemudian, nilai-nilai itu, yaitu kemerdekaan, martabat manusia, keadilan, juga ikut ditegaskan dalam alinea pertama Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia yang dinyatakan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Menurut Matius, lebih jauh lagi, Presiden ke-1 Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dalam pidato “Lahirnya Pancasila” tanggal 1 Juni 1945 menyebutkan bahwa kalau Pancasila itu diperas menjadi satu sila, maka kata Soekarno, “dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Soekarno menyatakan, “Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong!”
“Itulah sebabnya kami menyambut baik kerja sama dengan BPSDM Hukum yang dimulai awal tahun 2025 karena pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) sangat sejalan, bahkan dapat ikut memperkuat kompetensi sosial kultural Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai perekat bangsa”, kata Matius.
Matius mengatakan Program LKLB yang dimulai sebagai pelatihan guru sekolah dan madrasah pada tahun 2021 menjadi semakin lengkap dan telah melatih 11.000 lebih pendidik, termasuk ASN. Hal itu terjadi berkat “gotong royong” dengan BPSDM Hukum dan puluhan lembaga mitra lainnya termasuk lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan pemerintah pusat maupun daerah.
“Kami berharap kerja sama ini dapat semakin berkembang, demi kebaikan seluruh masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Matius.
Sementara itu, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Senior Fellow Institut Leimena, Amin Abdullah, mengatakan bahwa Pancasila menekankan pentingnya pemahaman dan penafsiran “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai “Ketuhanan yang Berkebudayaan”. Artinya, beragama dengan cara berkeadaban, tiada egoisme agama, menghormati agama-agama lain, dan berbudi pekerti luhur.
“Konsep Ketuhanan yang Berkebudayaan sejalan dengan yang dikembangkan LKLB dengan tiga kompetensinya yaitu pribadi artinya memahami agama sendiri, komparatif artinya mengenal agama lain, dan kolaboratif yaitu mampu bekerja sama di dalam perbedaan,” ujar Amin.
Ia menambahkan, Program LKLB ikut mendukung pendidikan Indonesia agar tidak semata menghasilkan generasi muda siap kerja, tapi mampu berhubungan sosial secara damai, saling menghormati, dan bekerja sama dengan orang atau kelompok lain yang berbeda.










