TVRINews – Jakarta
Pertemuan di Kertanegara perkuat diplomasi strategis Indonesia di kancah internasional
Sebelum menerima PM India hari ini, Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, di kediaman pribadinya di Kertanegara, Jakarta, Senin malam 6 Juni 2026. Pertemuan empat mata antara dua tokoh ini menjadi sorotan dalam rangkaian diplomasi aktif Indonesia di awal pekan ini.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang akrab, mengingat keduanya memiliki riwayat hubungan personal yang cukup panjang. Diskusi strategis ini dilakukan di tengah padatnya agenda Presiden Prabowo yang sebelumnya baru saja menerima kunjungan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, serta menyambut kedatangan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, dalam keterangan resmi yang dirilis pascapertemuan, menyatakan bahwa lawatan Tony Blair ke kediaman Presiden merupakan upaya untuk merawat tali silaturahmi sekaligus bertukar pikiran terkait isu-isu kontemporer dunia.
"Pertemuan tersebut berlangsung hangat di kediaman pribadinya di Kertanegara, Jakarta. Pertemuan antara dua kawan lama ini menjadi momen penting untuk bernostalgia sekaligus bersilaturahmi," ujar Teddy dalam pernyataan tertulisnya.
Lebih lanjut, Teddy mengungkapkan bahwa diskusi tidak hanya sebatas bernostalgia, melainkan juga menyentuh aspek-aspek krusial yang tengah memengaruhi tatanan dunia.
"Dalam kesempatan tersebut, keduanya juga saling berbagi pandangan mengenai berbagai perkembangan strategis global," tambah Teddy.
Tony Blair, yang memimpin Inggris selama satu dekade penuh dari 1997 hingga 2007, dikenal luas memiliki pengalaman mumpuni dalam manajemen kebijakan publik dan dinamika geopolitik internasional. Kedekatan Blair dengan lingkaran kepemimpinan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah menempatkannya sebagai salah satu mitra dialog yang signifikan bagi Jakarta.
Bagi pemerintah Indonesia, langkah Presiden Prabowo menerima tokoh internasional seperti Blair dinilai sebagai bagian dari strategi memperluas jejaring diplomasi global. Upaya ini dilakukan untuk memastikan posisi Indonesia tetap relevan dan memiliki daya tawar yang kuat dalam setiap kebijakan strategis internasional.
"Melalui pertemuan strategis seperti ini, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat hubungan dengan berbagai pemimpin dan tokoh internasional guna meningkatkan posisi serta daya saing Indonesia di kancah global," pungkas Teddy.
Pertemuan ini menjadi penegas bahwa di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, Indonesia akan terus mengejar kebijakan luar negeri yang pragmatis dan proaktif dalam merespons tantangan global yang semakin kompleks.










