TVRINews, Jakarta
Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Menurut KOWANI, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga dimulai dari keluarga yang tangguh melalui pemberdayaan perempuan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, dalam Seminar Nasional bertema Memperkuat Pemberdayaan Perempuan di Organisasi Pangan di Graha Mandiri, Jakarta Pusat, Senin, 27 Juli 2026.

(Seminar Nasional bertema Memperkuat Pemberdayaan Perempuan di Organisasi Pangan di Jakarta Pusat, Senin, 27 Juli 2026. (Foto: Lidya Thalia S))
Nannie mengatakan pembangunan Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah atau kekuatan ekonomi. Menurutnya, pembangunan bangsa harus ditopang oleh manusia yang berkualitas, keluarga yang kuat, dan masyarakat yang berdaya, di mana perempuan memegang peran penting dalam seluruh proses tersebut.
"Indonesia tidak dibangun hanya oleh kebijakan pemerintah ataupun kekuatan ekonomi semata. Indonesia dibangun oleh manusia yang tumbuh. Indonesia dibangun oleh keluarga yang tangguh. Dan Indonesia dibangun oleh masyarakat yang berdaya," ujar Nannie dalam keterangan yang diterima tvrinews di Jakarta Pusat, Senin, 27 Juli 2026.
Ia menegaskan pembangunan perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pembangunan nasional. Karena itu, KOWANI terus mendorong pemberdayaan perempuan sebagai fondasi penguatan keluarga sekaligus pembangunan bangsa.
Menurut Nannie, ketahanan pangan tidak sebatas memastikan pangan tersedia, tetapi juga menjamin setiap keluarga memperoleh pangan yang sehat, bergizi, aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Selain itu, ketahanan pangan juga harus mampu menjaga keberlangsungan petani, nelayan, pembudi daya, dan seluruh rantai pasok pangan nasional.
"Ketahanan pangan bukan sekadar memastikan pangan tersedia. Ketahanan pangan adalah memastikan setiap keluarga memperoleh pangan yang sehat, bergizi, aman, terjangkau, dan berkelanjutan,"jelasnya.
Ia menambahkan, perempuan bukan hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga berperan sebagai pelaku utama di berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, koperasi, UMKM, hingga penggerak ekonomi masyarakat.
"Perempuan bukan hanya penerima manfaat pembangunan. Perempuan adalah pencipta, perempuan adalah produsen, perempuan adalah petani, perempuan adalah nelayan, perempuan adalah pelaku koperasi, perempuan adalah pelaku UMKM, perempuan adalah inovator, serta perempuan adalah pemimpin komunitas," tegas Nannie.
Dalam kesempatan tersebut, KOWANI juga mengajak pemerintah, DPR, dunia usaha, organisasi perempuan, akademisi, petani, nelayan, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ketahanan pangan nasional. Menurut Nannie, tantangan di sektor pangan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor.
Melalui berbagai program pemberdayaan perempuan yang dijalankan, KOWANI berharap dapat memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.









