TVRINews - Jakarta
Dewan Persusuan Nasional Usulkan Kemitraan Strategis dan Hilirisasi Sapi Perah Rakyat demi Suksesnya Program Pangan Nasional.
Momentum Hari Susu Nusantara (HSN) ke-18 yang akan berlangsung 1 Juni, menjadi pijakan penting bagi sektor peternakan domestik untuk memperkuat kontribusinya terhadap ketahanan pangan nasional.
Memasuki hampir dua dekade sejak diinisiasi pada tahun 2008, pertumbuhan industri susu segar lokal kini diharapkan dapat melompat lebih tinggi guna mendukung target swasembada yang dicanangkan pemerintah.
Dewan Persusuan Nasional (DPN) melihat ada potensi besar dari sektor peternakan rakyat untuk menjadi pilar utama dalam pemenuhan nutrisi nasional.
Saat ini, produksi susu segar dalam negeri (SSDN) masih memasok sekitar 20 persen dari total kebutuhan nasional.
Dengan populasi sapi perah domestik yang berada di kisaran 600 ribu ekor, optimalisasi peternakan skala kecil menjadi kunci penting bagi masa depan industri ini.
Menuju Integrasi Swasembada Pangan
Dalam menyambut peringatan tahun ini, DPN menyampaikan sejumlah pemikiran strategis yang ditujukan untuk menyelaraskan potensi peternakan rakyat dengan agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Fokus utama yang diangkat adalah integrasi sektor persusuan ke dalam prioritas program swasembada pangan nasional.
"Kami berharap pemerintah dapat menetapkan usaha peternakan sapi perah, khususnya skala rakyat, sebagai bagian yang diprioritaskan dalam program swasembada pangan," tulis Dewan Persusuan Nasional dalam rilis resminya Minggu 31 Mei 2026.
Untuk mempercepat langkah tersebut, kehadiran payung hukum berupa Instruksi Presiden dinilai akan menjadi stimulus kuat.
Regulasi ini diharapkan mampu mempercepat laju perkembangan peternakan rakyat, yang pada gilirannya akan membuka lapangan kerja baru secara luas, terutama bagi generasi muda di wilayah pedesaan.
Mendorong Nilai Tambah dan Kemitraan Ideal

(Ilustrasi: TVRINews.com/FY)
Selain penguatan regulasi, aspek kesejahteraan peternak juga menjadi sorotan utama.
DPN mendorong adanya formulasi kebijakan yang memungkinkan para peternak lokal menikmati nilai tambah dari rantai produksi susu, tidak hanya memposisikan mereka sebagai penyedia bahan baku mentah bagi Industri Pengolahan Susu (IPS).
Seiring dengan masuknya investasi skala besar di sektor ini, DPN mengusulkan pola kemitraan yang inklusif antara korporasi dan peternak lokal.
Model yang disarankan adalah sistem plasma, di mana minimal 20 persen dari kapasitas peternakan skala besar dapat diintegrasikan dengan peternak rakyat.
Kontribusi pada Program Makan Bergizi Gratis
Akselerasi hilirisasi pada peternakan rakyat juga dipandang sebagai solusi strategis untuk menyukseskan program nasional lainnya, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui hilirisasi yang tepat, pasokan susu segar berkualitas tinggi dari peternak lokal dapat langsung terserap ke dalam ekosistem program tersebut. Sebagai langkah pendukung untuk meningkatkan skala kepemilikan sapi peternak yang rata-rata saat ini masih berkisar antara 2 hingga 4 ekor, skema subsidi untuk pengadaan sapi perah impor yang bernilai tinggi dapat menjadi opsi kebijakan yang efektif.
Langkah-langkah komprehensif ini diyakini tidak hanya akan meningkatkan populasi ternak, tetapi juga memantapkan posisi peternak lokal sebagai aktor utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.










