TVRINews, Jakarta
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong penerapan mandatori etanol sebagai strategi utama untuk menekan impor bensin nasional. Hal itu disampaikannya dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi XII DPR RI di Senayan, Jakarta.
Bahlil mengungkapkan ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin masih sangat tinggi. Konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 39 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 14 juta kiloliter.
"Bensin kita impor, konsumsi kita 39 juta sampai dengan 40 juta kiloliter per tahun. Produksi kita tidak lebih dari 14 juta kiloliter," kata Bahlil dalam rapat, Kamis, 22 Januari 2026.
Bahlil menambahkan, tambahan produksi dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan yang mencapai 5,8 juta kiloliter per tahun belum cukup untuk menutup kebutuhan nasional.
"Dengan penambahan 5,8 juta, maka kurang lebih sekitar 19 juta lebih untuk kita impor di 2026 bensin," ujarnya.
Untuk mengurangi ketergantungan impor, Bahlil menekankan pentingnya penerapan mandatori etanol pada bensin. Menurutnya, penggunaan etanol sebesar 10 persen berpotensi menghemat impor bensin hingga sekitar 3,9 juta kiloliter.
"Maka kemudian saya membuat caranya bagaimana agar kita mengurangi impor, langsung kita melakukan mandatori etanol. Kalau etanolnya 10 persen, itu dapat melakukan efisiensi impor sebesar 3,9 juta," tuturnya.










