
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Transformasi pembelajaran anak usia dini melalui pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) kian terasa di wilayah timur Indonesia. Praktik baik yang berkembang di Kabupaten Keerom, Papua hingga Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat menunjukkan bahwa teknologi mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, kontekstual, dan menyenangkan bagi murid PAUD/TK.
Di Kabupaten Keerom, ruang kelas TK Pembangunan Yapis kini tampil berbeda. Layar sentuh berukuran besar yang terpasang di kelas menjadi media eksplorasi baru bagi anak-anak. Mereka dapat mengenal bentuk, warna, dan berbagai objek pembelajaran dengan cara menyentuh langsung layar, bukan sekadar mendengarkan penjelasan guru.
Antusiasme murid tampak setiap kali sesi pembelajaran digital dimulai. Kepala TK Pembangunan Yapis, Winarsih, menilai kehadiran IFP menjadi lompatan penting bagi pendidikan anak usia dini, khususnya di wilayah perbatasan.
“Pembelajaran tidak lagi satu arah. Anak-anak bisa mencoba, memilih, dan bereksperimen langsung dengan materi yang tampil di layar,”ujar Winarsih dalam keterangan tertulis, Selasa, 24 Februari 2026.
Beragam konten digital seperti menggambar, mewarnai, hingga pengenalan objek menjadi aktivitas favorit murid. Bagi sekolah yang sebelumnya menghadapi keterbatasan sarana, IFP membuka akses terhadap pengalaman belajar yang lebih luas dan variatif.
Praktik serupa juga terlihat di salah satu PAUD/TK Negeri Pembina di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Kehadiran IFP menghadirkan suasana kelas yang lebih hidup. Saat gambar burung cenderawasih muncul di layar interaktif, murid-murid menyambutnya dengan tawa dan rasa ingin tahu yang besar.
Bagi anak-anak di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), IFP bukan sekadar perangkat elektronik. Kehadirannya menjadi simbol pemerataan akses pendidikan. Mereka merasa mendapatkan kesempatan belajar yang setara dengan sekolah di kota besar, sehingga rasa percaya diri pun tumbuh.
Dukungan Nasional
Secara nasional, digitalisasi pembelajaran PAUD terus diperkuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, realisasi pengiriman IFP untuk jenjang PAUD telah mencapai 64.190 unit atau 100 persen dari alokasi, dengan total sasaran 63.842 satuan pendidikan.
Laporan tersebut juga mencatat sebanyak 349 satuan PAUD di wilayah terdampak bencana turut menerima IFP. Pemerintah merencanakan pemenuhan kembali perangkat di wilayah bencana pada 2026.
Direktur Jenderal PAUD Dasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa penguatan infrastruktur pendukung akan terus dilakukan agar pemanfaatan IFP berkelanjutan.
Ke depan, pemerintah akan memperluas penguatan akses listrik, konektivitas internet, serta pendampingan guru agar manfaat IFP semakin optimal dan menjangkau lebih banyak satuan PAUD, termasuk di wilayah terdampak bencana.
“Dengan komitmen bersama antara satuan pendidikan, dinas pendidikan, dan Kemendikdasmen, IFP di ruang kelas PAUD tidak hanya menghadirkan gambar di layar, tetapi juga menumbuhkan harapan bahwa jarak geografis bukan lagi penghalang bagi lahirnya generasi Indonesia yang cerdas, percaya diri, dan setara,”ungkap Gogot.
Praktik di Keerom dan Teluk Bintuni menjadi bukti bahwa transformasi digital bukan semata soal kecanggihan teknologi, melainkan kesiapan sekolah dan guru untuk beradaptasi demi masa depan anak-anak Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews
