TVRINews, Wonosobo
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak para santri dan masyarakat untuk menjaga tradisi mendoakan orang tua serta para leluhur yang telah wafat. Menurutnya, doa dari anak yang saleh merupakan amalan yang pahalanya terus mengalir dan menjadi rezeki spiritual bagi ahli kubur.
Pesan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri Haul ke-22 KH Muntaha Al-Hafidz yang dirangkaikan dengan Haflah Khotmil Qur'an ke-49 di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Asy'ariyyah, Kalibeber, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat, 26 Juni 2026.
Dalam mauizah hasanahnya, Nasaruddin mengimbau para santri untuk membiasakan mengirimkan doa kepada orang tua dan keluarga yang telah meninggal, khususnya setelah menunaikan salat lima waktu.
"Jangan pernah malas mendoakan orang tua. Biasakan setiap selesai salat lima waktu mengirimkan doa kepada orang tua dan keluarga yang telah wafat,"kata Menag Nasaruddin dalam keterangan tertulis, dikutip, Jumat, 26 Juni 2026.
Ia menjelaskan, haul ulama bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan spiritual antara generasi saat ini dengan para pendahulu yang telah berjasa bagi umat.
Menurut Menag, sosok KH Muntaha Al-Hafidz merupakan ulama besar yang telah memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur'an dan mengembangkan pendidikan Islam.
"Hari ini kita menghadiri momentum yang sangat bersejarah dengan mengenang seorang ulama besar yang telah memberikan banyak manfaat bagi umat,"jelasnya.
Nasaruddin juga mengingatkan ajaran yang berkembang di lingkungan pesantren, sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab klasik, agar setiap muslim tidak melupakan kewajiban mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia.
Ia berharap kebiasaan tersebut terus dipraktikkan oleh para santri sebagai bagian dari amal saleh yang membawa manfaat bagi kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
"Jadilah anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tua. Doa anak yang saleh merupakan salah satu amalan yang pahalanya terus mengalir," tuturnya.
KH Muntaha Al-Hafidz dikenal sebagai salah satu ulama kharismatik yang berperan besar dalam melahirkan ribuan penghafal Al-Qur'an melalui Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Asy'ariyyah.
Selain pendidikan tahfiz, pesantren tersebut juga menyelenggarakan pendidikan formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sejak 1988, di lingkungan pesantren berdiri Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ).
Dalam kunjungan kerja tersebut, Menteri Agama turut didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah Saiful Mujab, Kepala Bagian Tata Usaha Hidayat Maskur, serta Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Moch. Fatkhuronji.










