TVRINews, Jakarta
Seniman, Guntur Wibowo alias Guntur Jong Merdeka menilai perdamaian merupakan tanggung jawab setiap manusia, termasuk para seniman. Menurutnya, seniman memiliki cara tersendiri dalam menyuarakan perdamaian, yakni melalui karya seni.
Guntur mengatakan, seni rupa dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan kebaikan, sekaligus mengajak masyarakat membangun masa depan yang lebih baik.
"Perdamaian adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia. Saya menyuarakan perdamaian melalui media seni rupa," ujar Guntur kepada wartawan termasuk tvrinews.com dalam kegiatan Artist Talk di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Ia menilai cara seniman memperjuangkan perdamaian berbeda dengan profesi lain. Jika tentara memiliki cara dan tugasnya sendiri dalam menjaga negara, seniman dapat berkontribusi melalui karya yang menginspirasi dan menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan.
"Kalau tentara mungkin dengan berperang, kalau kami dengan karya. Kami mengajak orang banyak menyuarakan kebaikan dan inspirasi demi masa depan yang lebih baik," ucapnya.
Menurut Guntur, seni juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat yang memiliki latar belakang maupun pandangan berbeda. Melalui karya, seniman dapat membuka ruang dialog mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa semangat perdamaian menghadapi tantangan di tengah perkembangan teknologi dan media sosial. Menurutnya, kemudahan teknologi tidak selalu membuat generasi muda semakin peduli terhadap sesama.
Lebih lanjut, Guntur menilai teknologi merupakan "pisau bermata dua". Di satu sisi, teknologi memberikan akses informasi yang luas, tetapi di sisi lain dapat membuat seseorang terlalu larut dalam dunia digital dan kehilangan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Karena itu, ia berharap kehadiran SBY Art Community (SAC) dapat menjadi salah satu ruang bagi seniman untuk terus menyuarakan pesan perdamaian melalui karya seni.
"Ini yang jadi kekhawatiran di era digitalisasi ini. Maka dari itu, SAC hadir untuk menyuarakan Art for Peace melalui seni rupa," tuturnya.
Sebagai informasi, pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration merupakan kolaborasi SBY Art Community bersama sejumlah institusi seni, yakni ISI Yogyakarta, ISI Solo, ITB, dan IKJ, serta seniman internasional Christopher Lehmpfuhl. Pameran ini mengangkat tema perdamaian, diplomasi budaya, dan keberlanjutan lingkungan sebagai bentuk kontribusi komunitas seni Indonesia.
Pameran tersebut menampilkan sekitar 150 karya lukisan, termasuk karya Susilo Bambang Yudhoyono, Christopher Lehmpfuhl, para perupa dari berbagai institusi seni di Indonesia, serta seniman cilik Indonesia. Rangkaian pameran juga diisi Artist Talk.










