TVRINews - Bantul
Bantul Resmikan Kampung Siaga Bencana Hadapi Multi-Ancaman.
Pemerintah memperkuat ketangguhan masyarakat di tingkat akar rumput melalui peresmian Kampung Siaga Bencana (KSB) Mulyodadi di Kepanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Strategis ini diambil guna mengantisipasi spektrum kerentanan yang luas di wilayah tersebut, mulai dari potensi gempa bumi hingga cuaca ekstrem.
Direktur Jenderal Perlindungan Sosial Kementerian Sosial, Prof. Dr. Agus Zaenal Arifin, menyatakan bahwa pembentukan KSB bukan sekadar agenda seremonial kelembagaan. Menurutnya, esensi utama program ini adalah membangun kesiapan dan kapasitas warga secara langsung di lingkungan tempat tinggal mereka.
"Kegiatan ini bukan sekadar pengukuhan kelembagaan, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun ketangguhan masyarakat dari tingkat yang paling dekat dengan warga. Masyarakat harus memiliki pengetahuan, kapasitas, dan kesiapan untuk menghadapi bencana di lingkungannya," ujar Agus, Sabtu 22 Agustus 2026.
Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2025, Kabupaten Bantul mencatatkan skor risiko 96,02 dengan klasifikasi sedang. Kendati demikian, ancaman nyata tetap mengintai wilayah ini.

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, memaparkan bahwa Bantul menghadapi multi-ancaman, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga kekeringan. Catatan khusus diberikan pada risiko gempa bumi yang berada di kategori tinggi dengan skor 12,89.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Baru-baru ini, tepatnya pada 20 Agustus 2026 sore, gempa berkekuatan M3,5 mengguncang wilayah Bantul dan dirasakan hingga Kota Yogyakarta, meski tidak dilaporkan menimbulkan kerusakan fisik.
"Oleh karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh dibangun hanya untuk satu jenis bencana. Budaya tangguh bencana harus terus didorong agar masyarakat mampu mengenali risiko, mengurangi kerentanan, meningkatkan kapasitas, melindungi kelompok rentan, merespons keadaan darurat, dan pulih dengan cepat," tutur Andre.
Ia menambahkan, mitigasi bencana harus diintegrasikan ke dalam kerangka pembangunan berkelanjutan mengingat dampaknya yang dapat melumpuhkan sektor pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian. Oleh sebab itu, sinergi lintas sektoral yang melibatkan pemerintah pusat, daerah, relawan, hingga dunia usaha menjadi kunci utama.

Di sisi lain, Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanto menekankan pentingnya optimalisasi infrastruktur pendukung seperti Gardu Sosial dan Lumbung Sosial agar berfungsi optimal saat situasi darurat. Senada dengan hal tersebut, Andre mengingatkan agar pembaruan data direktori kebencanaan serta simulasi berkala terus dijalankan secara konsisten.
Rangkaian acara pengukuhan ini juga dirangkai dengan pelantikan Tagana Muda Kabupaten Bantul. Kehadiran generasi muda ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak literasi serta budaya siaga bencana di tengah masyarakat luas. Melalui kolaborasi dan gotong royong,
KSB Mulyodadi diproyeksikan menjadi model percontohan ketangguhan komunitas dalam menghadapi dinamika kebencanaan di masa depan.










