TVRINews – Jakarta
Peringatan ke-41 HAN jadi momentum refleksi komitmen bangsa terhadap perlindungan anak menuju 100 tahun Indonesia Merdeka
Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) sebagai bentuk nyata komitmen negara terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak. Di tahun 2025, peringatan ini memasuki usia ke-41 dan mengusung tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”, dengan tagline “Anak Indonesia Bersaudara.”
Tema ini mencerminkan harapan besar bangsa terhadap generasi muda, bahwa keberhasilan Indonesia mencapai visi Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kualitas anak-anak hari ini. “Anak-anak adalah subjek utama pembangunan. Tanpa mereka, kita tak punya masa depan,”
Sejarah Panjang HAN: Dari Soekarno ke Soeharto :
Peringatan Hari Anak Nasional bukanlah seremoni biasa. Akar sejarahnya merentang hingga tahun 1951, ketika Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pertama kali menggagas pentingnya peringatan khusus bagi anak-anak.
Presiden Soekarno dan Ibu Negara Fatmawati pada acara pekan anak anak ke 18 mei 1952 (Foto : Perpusnas RI)
Pada 1952, Presiden Soekarno menghadiri Pekan Kanak-Kanak pertama di Istana Merdeka. Kala itu, belum ada tanggal tetap. Beberapa kali tanggal peringatan berpindah, mulai dari awal Juli hingga awal Juni—bahkan pernah disesuaikan dengan ulang tahun Soekarno (6 Juni). Namun, semangat dasarnya tetap satu: anak adalah prioritas.

Presiden Soeharto Pada Hari Anak Nasional di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta 1994
Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Melalui Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1984, tanggal 23 Juli resmi ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional. Penetapan ini merujuk pada pengesahan UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yang mengukuhkan hak anak atas pengasuhan, perlindungan, dan tumbuh kembang yang optimal.
Dari Stunting hingga Literasi Digital :
Dalam peringatan tahun ini, KemenPPPA menyoroti isu-isu strategis dalam subtema HAN 2025, antara lain:
• Generasi Emas Bebas Stunting: Fokus pada pencegahan stunting yang masih mengancam 21,5% balita di Indonesia (data BPS, Maret 2025).
• Anak Cerdas Digital: Literasi digital penting untuk melindungi anak dari konten negatif di internet.
• Stop Perkawinan Anak: Berdasarkan data Komnas Perempuan 2024, 1 dari 9 anak perempuan di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun.
• Hentikan Kekerasan terhadap Anak: KPAI mencatat ada lebih dari 6.000 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2024.
• Pendidikan Inklusif: Masih ada ribuan anak disabilitas yang belum mengakses pendidikan formal karena keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar.
“Anak tidak hanya perlu diberi ruang untuk tumbuh, tetapi juga dilindungi dari bahaya yang mengintai di rumah, sekolah, dan ruang digital,” ujar Deputi Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Nahar. (23 Juli 2025)
Logo HAN 2025: Simbol Cita-cita dan Inklusi :
Logo resmi HAN 2025 menggambarkan tiga anak mengibarkan bendera Merah Putih, salah satunya menggunakan alat bantu berdiri. Desain ini menyiratkan bahwa semua anak, termasuk penyandang disabilitas, memiliki hak dan peluang yang setara untuk mewujudkan mimpi.
• Warna merah dan putih menandakan nasionalisme dan semangat kebersamaan.
• Garis abu-abu mencerminkan kompleksitas kebutuhan anak yang beragam, sesuai tingkat kerentanannya.
Komitmen Bersama, Masa Depan Bersinar :
HAN 2025 bukan hanya milik pemerintah. Ini adalah panggilan bagi seluruh elemen masyarakat orang tua, guru, pemuka agama, tokoh adat, dan media untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan ramah bagi anak.
Karena dari tangan-tangan kecil merekalah, masa depan Indonesia digenggam. Mereka bukan hanya penerus bangsa, tapi juga pemilik masa depan itu sendiri.
Editor : Redaksi TVRINews










