TVRINews – Damaskus
Lawatan diplomatik pertama pemimpin Eropa Barat ini menjadi simbol penting dalam upaya reintegrasi Suriah ke kancah internasional pasca-transisi kepemimpinan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba di Damaskus pada Selasa 7 Juli 2026, menandai kunjungan resmi pertama seorang kepala negara Eropa Barat ke Suriah sejak transisi kepemimpinan nasional.
Pertemuan ini mencerminkan upaya intensif Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa, dalam memulihkan posisi Suriah di komunitas global pasca-runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, Macron menegaskan komitmen Prancis terhadap rakyat Suriah. "Saya datang untuk menegaskan kembali komitmen Prancis kepada rakyat Suriah dan untuk Suriah yang berdaulat, bersatu dalam keberagaman, serta hidup damai dengan negara-negara tetangga," tulis Macron. Narasi ini menetapkan arah kunjungan yang berfokus pada diplomasi, pemulihan ekonomi, dan stabilitas kawasan.
Sebagai gestur simbolis sebelum memulai agenda pembicaraan formal pada Selasa 7 Juli 2026 Macron dan Sharaa menyempatkan diri mengunjungi Masjid Umayyah di Damaskus usai jamuan makan malam kerja.
Kunjungan ini dinilai para pengamat sebagai langkah krusial dalam memulihkan kehadiran Suriah di panggung internasional.
Dalam rombongannya, Macron membawa serta sejumlah pimpinan korporasi besar Prancis, termasuk CEO CMA CGM Rodolphe Saade dan pimpinan TotalEnergies, Patrick Pouyanne. Diskusi antara kedua belah pihak diperkirakan akan mencakup peluang rekonstruksi dan investasi pasca-konflik, kendati kalangan bisnis Prancis dilaporkan masih bersikap hati-hati terkait kepastian hukum dan iklim investasi di lapangan.
Lawatan ini berlangsung dalam situasi keamanan yang menantang. Beberapa hari sebelumnya, ledakan mematikan terjadi di sebuah kafe di Damaskus, yang menjadi pengingat nyata akan kerentanan yang dihadapi pemerintahan baru Sharaa. Pemerintah Suriah saat ini tengah berupaya melakukan reunifikasi negara setelah lebih dari 13 tahun konflik berkepanjangan yang merenggut lebih dari setengah juta jiwa serta meluluhlantakkan infrastruktur nasional.
Isu perlindungan minoritas, khususnya bagi komunitas Alawi dan Druze yang sempat mengalami kekerasan sektarian tahun lalu, menjadi agenda utama yang disoroti oleh Presiden Prancis. Stabilitas kelompok-kelompok minoritas ini dipandang sebagai pilar krusial dalam transisi politik Suriah yang lebih luas.
Namun, posisi Prancis di Suriah menghadapi lanskap regional yang kompleks. Di satu sisi, Turki berperan sebagai pendukung utama otoritas baru Suriah. Di sisi lain, Israel terus melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Suriah sejak jatuhnya rezim lama.
Situasi keamanan sempat memanas ketika laporan lokal menyebutkan adanya beberapa ledakan di pusat kota Damaskus pada Selasa. Insiden tersebut terjadi tidak jauh dari hotel tempat Macron menginap selama kunjungan resminya.
Menjelang akhir kunjungannya, Macron dijadwalkan akan tiba di Ankara pada hari ini Rabu 8 Juli 2026, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO. Di sela-sela KTT tersebut, pihak Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Ahmad al-Sharaa dihari yang sama.










