TVRINews, Jakarta
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyebut Kementerian HAM berhasil meraih dua rekor dunia dari Guinness World Records di bidang pendidikan dan penyuluhan hak asasi manusia. Pengumuman pencapaian tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang berlangsung di Kantor Kementerian HAM, Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026.
Menteri HAM Natalius Pigai menjelaskan bahwa pelaksanaan program edukasi HAM ini merupakan tindak lanjut atas mandat yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Saya mau sampaikan kepada teman-teman media dan rakyat Indonesia terima kasih atas dukungan saya Menteri Hakasasi Manusia diberi tugas oleh Presiden Prabowo Subianto berdasarkan keputusan Presiden nomor 156 tahun 2024 antara lain melaksanakan salah satunya adalah pendidikan dan penyuluhan hak asasi manusia," ujar Natalius Pigai.
Dalam kesempatan tersebut, Natalius Pigai menegaskan bahwa Indonesia berhasil melampaui catatan rekor pendidikan HAM yang sebelumnya dipegang oleh negara lain di tingkat global.
"Kami pecahkan rekor dunia di bidang pendidikan hak asasi manusia terbesar di dunia dan rekor yang kami terima adalah oleh Guinness World Record jadi rekor dunia kami kalahkan negara Ekuador jadi pendidikan dan penyuluhan di seluruh dunia kita terbesar nomor 1 dengan adanya pemberian penghargaan internasional ini," kata Natalius Pigai.
Ia juga menyoroti dua prestasi besar skala internasional yang berhasil diraih Indonesia saat ini, yakni sebagai penyelenggara pendidikan HAM terbesar di dunia sekaligus memegang posisi presiden Dewan HAM PBB.
"Jadi ada 2 prestasi dunia yang kita pecahkan satu adalah pendidikan HAM terbesar di dunia yang kedua adalah presiden Dewan HAM PBB," tambahnya.
Kementerian HAM terus memperluas jangkauan edukasi ke berbagai wilayah Indonesia guna membangun kesadaran peradaban serta penguatan nilai-nilai hak asasi manusia di tengah masyarakat.
"Saya ingin sampaikan beberapa contoh pekerjaan yang kita lakukan di Mandailing Natal kami melakukan sosialisasi HAM di depan 6 ribu orang di Kalimantan Barat kami juga melakukan sosialisasi di depan 6 ribu orang, di Gorontalo kami melakukan sosialisasi di depan 5 ribu orang di NTT sebulan dua bulan lalu kami melakukan sosialisasi di depan 4700 orang, 16 universitas di NTT kalau di Gorontalo Universitas Negeri Gorontalo hampir 5 ribu orang," jelas Pigai.
Program edukasi publik ini ditujukan untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya penghormatan hak asasi manusia secara nasional.
"Sosialisasi dengan sosialisasi pendidikan HAM ini penting karena ini menyangkut kesadaran berperadaban hak asasi manusia kesadaran pembangunan hak asasi manusia untuk itu kita baru memulai membangun kesadaran hak asasi manusia sosialisasi HAM memperkenalkan hak asasi manusia kepada publik Indonesia," pungkasnya.










