TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi'i memastikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di pondok pesantren berjalan tepat sasaran, khususnya bagi para santri sebagai penerima manfaat utama. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkuat integrasi data agar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal ini dibahas dalam rapat bersama Staf Ahli Menteri Agama Faisal Ali Hasyim, Tim Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), serta Direktorat Pondok Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Menurut Wamenag, data menjadi fondasi utama keberhasilan program. Ia menegaskan bahwa seluruh santri yang berhak menerima MBG harus terdata secara valid agar tidak terjadi kesalahan sasaran.
“Yang kita jaga betul adalah datanya. Santri yang menerima harus jelas, valid, dan terverifikasi. Program ini harus sampai kepada yang berhak, tidak boleh meleset,”kata Syafi’i dalam keterangan tertulis, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menjelaskan, integrasi data lintas sistem menjadi langkah penting agar pelaksanaan MBG tidak berjalan parsial. Dengan data yang terhubung dan mutakhir, proses perencanaan, distribusi, hingga evaluasi program dapat dilakukan secara lebih terukur dan transparan.
Pesantren dinilai sebagai lingkungan strategis untuk implementasi program MBG karena memiliki sistem pembinaan yang terstruktur. Hal ini memungkinkan pelaksanaan program berjalan lebih terorganisasi dan berpotensi menjadi model percontohan.
Selain itu, Kementerian Agama tengah menyusun pedoman pelaksanaan MBG di satuan pendidikan, termasuk pesantren. Pedoman tersebut diharapkan menjadi acuan bersama agar implementasi program berjalan seragam, baik dari sisi administrasi maupun kualitas layanan.
“Ke depan, kita ingin pelaksanaan MBG ini rapi, sistematis, dan bisa jadi rujukan. Tapi semua itu harus dimulai dari data yang kuat,”lanjutnya.
Wamenag juga menekankan pentingnya komitmen seluruh pihak, khususnya penyedia layanan, dalam menjaga standar pelaksanaan program. Ia mengingatkan bahwa MBG bukan sekadar program bantuan, melainkan bagian dari investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dengan penguatan integrasi data, penyusunan pedoman, serta koordinasi lintas sektor, Kementerian Agama optimistis pelaksanaan MBG di pondok pesantren dapat berjalan lebih efektif dan menjadi model implementasi program serupa di tingkat nasional.










