TVRINews – Jakarta
Memasuki usia satu abad, organisasi perempuan tertua di Indonesia ini mengintegrasikan edukasi nilai keluarga dengan upaya konservasi arsip sejarah bangsa melalui inisiatif UNESCO.
Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menegaskan komitmennya dalam melestarikan narasi sejarah perempuan dengan memanfaatkan media kreatif.
Dalam sebuah acara nonton bersama film Jangan Buang Ibu di Jakarta, Rabu 1 Juli 2026, organisasi tersebut menggalang dukungan publik untuk memperkuat posisi sejarah perjuangan perempuan Indonesia dalam program UNESCO Memory of the World.
Kegiatan ini menjadi simbol transisi organisasi menuju perayaan seratus tahun KOWANI. Melalui film tersebut, KOWANI menyoroti pentingnya peran ibu sebagai fondasi keluarga dan elemen vital dalam pembangunan karakter bangsa.
Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, menyatakan bahwa upaya konservasi arsip sejarah bukan sekadar urusan organisasi, melainkan langkah krusial untuk memastikan kontribusi perempuan di masa lalu tidak hilang dari ingatan kolektif generasi mendatang.
"Kami ingin generasi sekarang dan berikutnya memahami bahwa perempuan Indonesia memegang peranan fundamental dalam perjalanan bangsa. Sejarah perjuangan ini harus didokumentasikan agar tetap relevan di masa depan," ujar Nannie.
Sejalan dengan inisiatif tersebut, KOWANI kini aktif menghimpun berbagai dokumen historis, mulai dari foto hingga surat-surat terkait Kongres Perempuan Indonesia, guna diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO.
*Kolaborasi Lintas Sektor dan Keamanan*
Di luar aspek historis, KOWANI memperluas jangkauannya melalui program kolaborasi "1.000 Profesi, 1.000 Organisasi, dan 1.000 Solusi". Inisiatif ini dirancang untuk mengatasi isu-isu kontemporer seperti kekerasan berbasis gender dan perdagangan manusia melalui kemitraan antara akademisi, pelaku usaha, serta media.
Dalam momentum yang bertepatan dengan Hari Bhayangkara ke-80, KOWANI juga meluncurkan program pelatihan bela diri bagi perempuan. Bekerja sama dengan pelatih karate nasional dari PB FORKI, program ini bertujuan meningkatkan kemampuan perlindungan diri sebagai langkah preventif terhadap tindak kekerasan.
"Tujuannya adalah membekali perempuan dengan teknik perlindungan diri dasar agar mereka lebih percaya diri dalam menghadapi situasi berbahaya," jelas Sensei Puspa Meonk, instruktur yang memimpin program tersebut.
Menatap abad kedua organisasinya, KOWANI menekankan bahwa transformasi dan regenerasi adalah kunci untuk tetap adaptif. Dengan merangkul lebih banyak perempuan muda dan mempererat sinergi lintas sektor, KOWANI optimistis dapat terus menjadi motor penggerak bagi kemajuan perempuan yang inklusif di Indonesia.










