TVRINews, Jakarta
Festival dan Pameran Konferensi Asia-Afrika (KAA) 2026 mendorong generasi muda memperkuat kolaborasi global melalui diplomasi, pendidikan, kebudayaan, ekonomi kreatif, dan inovasi. Kegiatan yang digelar di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026, itu mengangkat tema "Reimajinasi Konferensi Asia-Afrika untuk Generasi Muda dan Jakarta Kota Global: Solidaritas, Multidiplomasi, dan Multinarasi Sejarah Dunia."
Dalam siaran pers yang diterima redaksi, Minggu, 5 Juli 2026, festival menghadirkan diplomat, akademisi, dan tokoh nasional untuk membahas relevansi Spirit Bandung dalam menjawab tantangan global abad ke-21.
Duta Besar Ethiopia untuk Indonesia, H.E. Prof. Fekadu Beyene Aleka, menilai generasi muda menjadi penentu masa depan hubungan antarbangsa.
“Kepemimpinan masa depan membutuhkan generasi yang memiliki wawasan global dan kemampuan membangun jejaring lintas budaya,” tuturnya.
Menurutnya, kerja sama tidak lagi cukup mengandalkan diplomasi antarnegara, tetapi juga harus diperkuat melalui riset, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, pertanian, dan manufaktur.
“Di era transformasi digital, sains dan teknologi menjadi bahasa universal yang mampu mempertemukan generasi muda Asia dan Afrika dalam ekosistem kolaborasi yang produktif dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia, H.E. Mr. Abdal Fatah, mengingatkan semangat solidaritas Konferensi Asia-Afrika tetap relevan di tengah masih berlangsungnya berbagai konflik dunia.
“Bangsa Indonesia adlaah bangsa besar yang mendukung bangsa lain untuk merdeka,” tutur Duta Besar Palestina, Abdal Fattah.
Sementara itu, Cultural Counselor Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia, H.E. Dr. Yahya Giri, menilai Asia dan Afrika memiliki kekayaan intelektual dan budaya yang perlu menjadi kekuatan diplomasi masa kini.
"Asia dan Afrika sering dikenali sebagai konflik dan krisis. Padahal di sana penuh warisan intelektual dan budaya," tuturnya.
Ia menilai diplomasi modern juga dibangun melalui sastra, film, media digital, dan kecerdasan buatan.
“Sebuah film, buku, atau festival budaya terkadang dapat membentuk opini publik dan memperkuat hubungan antarnegara secara lebih efektif daripada negosiasi politik selama bertahun-tahun,” paparnya.
"Kaum muda bukan hanya pewaris sejarah; mereka akan menjadi penulis bab baru," lanjutnya.
Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), mengatakan Spirit Bandung perlu diwujudkan dalam kolaborasi riset, pertukaran mahasiswa, inovasi sosial, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
“Spirit Konferensi Asia-Afrika harus diterjemahkan menjadi kerja sama riset, pertukaran mahasiswa, inovasi sosial, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ketua PERLUNI Unika Atma Jaya, Ivor Pasaribu, menilai jejaring alumni dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Alumni merupakan modal sosial. Jejaring alumni adalah ruang kolaborasi yang mempertemukan dunia kampus, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan komunitas internasional untuk bersama-sama membangun masa depan,” ujarnya.
Ketua Iluni Fakultas Hukum Unika Atma Jaya, Arthur Sanger, mengajak generasi muda menjadikan keberagaman sebagai kekuatan membangun solidaritas.
"Hampir 70 tahun yang lalu, Konferensi Asia-Afrika di Bandung mengajarkan kepada dunia bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Sebaliknya, keberagaman menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas, saling menghormati, dan menciptakan masa depan yang lebih baik," ujarnya.
Festival juga menggelar forum ekonomi kreatif, diskusi sejarah, dan pembahasan kerja sama Sister City Pendidikan Jakarta–Moskow. Selain itu, ditampilkan pameran sejarah, arsip diplomasi, fotografi, sastra, dan seni sebagai upaya menghidupkan kembali Spirit Bandung di kalangan generasi muda.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Festival KAA 2026 menegaskan semangat Konferensi Asia-Afrika tetap relevan sebagai fondasi membangun kolaborasi internasional, memperkuat solidaritas, dan menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan global.










