TVRINews, Manokwari
Pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) di kawasan transmigrasi Papua mulai menunjukkan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Salah satunya terlihat dari peningkatan pendapatan mama-mama Orang Asli Papua (OAP) di Manokwari yang naik lebih dari tiga kali lipat setelah mendapat pelatihan pengolahan hasil kebun dan akses pemasaran.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, sebelum mendapatkan pendampingan TEP, pendapatan mama-mama OAP dari aktivitas ladang berpindah hanya sekitar Rp700 ribu per bulan.
Namun, setelah mendapat pelatihan mengolah hasil kebun menjadi produk bernilai tambah, pendapatan mereka meningkat menjadi sekitar Rp2,4 juta per bulan.
"Ibu-ibu OAP memberikan testimoni, sebelum ada pelatihan dari TEP, penghasilannya sekitar Rp700.000 per bulan dari ladang berpindah. Setelah dilatih membuat dodol yang dipasarkan ke supermarket, penghasilannya naik drastis menjadi Rp2.400.000," ujar Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Jumat, 18 September 2026.
Salah satu inovasi yang dikembangkan TEP di Manokwari yakni mengolah buah matoa menjadi dodol. Produk tersebut kemudian dipasarkan melalui jaringan ritel sehingga hasil kebun masyarakat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Selain matoa, cabai dan tomat juga diolah menjadi produk lembaran pangan atau food leather. Pengolahan tersebut ditujukan untuk memperpanjang daya simpan sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Menurut Iftitah, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi tidak selalu harus dimulai dari pembangunan berskala besar. Potensi yang telah dimiliki masyarakat dapat dikembangkan melalui peningkatan keterampilan, pemanfaatan teknologi, pengemasan, hingga pembukaan akses pasar.
"Kita mulai dari langkah-langkah kecil, tetapi hasilnya harus terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat," tegasnya.
Selain sektor ekonomi, TEP juga menghadirkan sejumlah solusi untuk persoalan dasar masyarakat di kawasan transmigrasi Papua. Di Lereh, Kabupaten Jayapura, misalnya, tim membantu menguji penguat jaringan telekomunikasi untuk mendukung pelayanan kesehatan dan pemasaran produk masyarakat.
Sementara di Kampung Omon Jaya, hampir 100 anak yang sebelumnya tidak bersekolah kembali memperoleh akses belajar melalui pengaktifan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Persoalan air bersih juga mulai ditangani melalui pembangunan sistem distribusi perpipaan di Lereh. Adapun di Manokwari Selatan, limbah kotoran sapi dimanfaatkan menjadi biogas untuk kebutuhan memasak dan listrik, sementara residunya digunakan sebagai pupuk organik.
Berbagai temuan dan solusi tersebut selanjutnya dirangkum sebagai bahan strategis pemerintah untuk mendukung pembangunan kawasan transmigrasi yang lebih tepat sasaran.
Pendekatan ini sejalan dengan upaya pemerintah mengubah paradigma transmigrasi, tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, tetapi membangun kawasan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan transmigran.
Dengan demikian, pendampingan TEP diarahkan tidak hanya menghasilkan rekomendasi, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh keterampilan dan akses yang dapat terus dikembangkan secara mandiri setelah masa tugas tim berakhir.










