TVRINews, Yogyakarta
Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan P2SDM, bersama Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta menggelar Forest Youthverse Resilience Summit Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kegiatan mengangkat tema “Forest Guardians of Merapi: Youth in Action Against Cold Lava Floods”. Forum ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk memahami kondisi ekosistem Merapi sekaligus mengembangkan gagasan dalam menghadapi ancaman bencana lahar dingin.
Melalui kegiatan Action Day, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai kondisi lereng Merapi dan pentingnya pemulihan ekosistem sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana ekologis.
Pemahaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi berbagai gagasan dan aksi kolaboratif pada hari kedua kegiatan.
Kepala Pusgenri, Luckmi Purwandari, mengatakan generasi muda memiliki potensi besar untuk terlibat langsung dalam menjaga kawasan Merapi.
“Generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi Forest Guardians of Merapi. Kita tidak hanya mendorong mereka untuk memahami ekosistem, tetapi juga membekali mereka untuk melahirkan solusi nyata dan aksi kolaboratif dalam menghadapi ancaman bencana lahar dingin,” ujar Luckmi Purwandari dalam keterangan tertulis, dikutip, Jumat, 18 September 2026.
Pada hari kedua, peserta mengembangkan berbagai inovasi melalui semangat “Kenali Merapi, Sejarahnya, Nikmati Wisatanya”. Salah satu gagasan yang dihasilkan yakni “Merapi Smart Tourism Board”.
Inovasi tersebut berupa media informasi wisata yang menggabungkan peta kawasan, sejarah, destinasi wisata, kebutuhan wisatawan, karakter animasi, video, serta QR code. Media ini dirancang untuk menghubungkan wisatawan dengan berbagai informasi digital mengenai kawasan Merapi.
Genries DIY, Gayatri, mengatakan inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi peserta dari berbagai bidang keahlian, seperti pertanahan, pariwisata, psikologi, animasi, hingga broadcasting.
“Keunggulan Merapi Smart Tourism Board ada pada kolaborasinya. Kami tidak hanya membuat peta atau media informasi, tetapi mencoba melihat kebutuhan wisatawan dari berbagai sisi, mulai dari informasi lokasi, sejarah, pengalaman berwisata, sampai bagaimana informasi tersebut dikemas agar menarik dan mudah diakses. Harapannya, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan Merapi, tetapi juga mengenal sejarah dan memahami pentingnya menjaga kawasan Merapi,”ungkap Gayatri.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo, mengapresiasi gagasan peserta yang memadukan informasi, teknologi, kreativitas, dan kebutuhan wisatawan.
Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan adanya perspektif baru dari generasi muda dalam memperkenalkan sekaligus mendukung pelestarian kawasan Merapi.
Rangkaian Forest Youthverse Resilience Summit Wilayah Yogyakarta menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan pemahaman menjadi aksi dan inovasi. Kreativitas dan kolaborasi peserta diarahkan untuk menjawab tantangan kawasan Merapi, tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai kawasan yang memiliki nilai sejarah dan ekologis yang perlu dijaga keberlanjutannya.










