TVRINews, Gorontalo
Kebijakan pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen mulai memberikan dampak positif bagi petani di berbagai daerah. Tidak hanya menekan biaya produksi, kebijakan ini juga meningkatkan keuntungan usaha tani dan mendorong kesejahteraan petani.
Sejumlah petani dari berbagai wilayah mengaku merasakan langsung manfaat penurunan harga pupuk tersebut saat menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo.
Yogi, petani padi dan sawit asal Aceh, menilai kebijakan itu menjadi salah satu langkah yang paling dirasakan manfaatnya oleh petani.
"Terkait masalah pupuk, ini sangat luar biasa. Baru kali ini pemerintahan sekarang harga pupuk bisa turun 20 persen. Biasanya harga pupuk Urea bisa Rp150 ribu per sak, hari ini sudah sekitar Rp90 ribu. Luar biasa memang," ujar Yogi, Kamis, 25 Juni 2026.
Menurutnya, penurunan harga pupuk membuat biaya produksi berkurang secara signifikan sehingga keuntungan petani meningkat.
"Petani sangat diuntungkan kali ini. Terima kasih Bapak Presiden, dari petani Aceh," katanya.
Apresiasi juga disampaikan Abdul Latif, petani asal Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Ia mengatakan harga pupuk yang lebih terjangkau sangat membantu petani di wilayah perbatasan.
"Selama ini pupuk mahal. Dengan adanya subsidi yang dibantu kurang lebih 20 persen, masyarakat petani kecil merasa tertolong dengan program Pak Prabowo yang direalisasikan oleh Pak Mentan Amran Sulaiman," ungkapnya.
Sementara itu, Nurkholis, petani asal Berau, Kalimantan Timur, menyebut penurunan harga pupuk sebagai peristiwa bersejarah yang belum pernah ia alami sebelumnya.
"Seumur hidup saya dari kecil sampai besar, mulai bapak saya sampai hari ini, inilah sejarah. Pupuk itu harganya turun, bukan naik. Sementara harga gabah naik, harga jagung juga naik, dan BULOG menyerap hasil panen dengan baik," ujarnya.
Menurut Nurkholis, turunnya harga pupuk yang diikuti membaiknya harga komoditas pertanian memberi dampak nyata terhadap kondisi ekonomi petani.
"Berasa sekali. Petani-petani di Berau sekarang rata-rata sudah punya mobil sendiri. Saya juga sudah punya. Alhamdulillah. Ini menunjukkan petani semakin sejahtera," katanya.
Manfaat serupa dirasakan Anandi Sari, petani asal Kabupaten Serang, Banten. Ia mengaku penurunan harga pupuk berdampak positif terhadap hasil produksi pertaniannya. Namun, ia berharap distribusi pupuk bersubsidi semakin luas hingga tingkat desa agar petani tidak lagi menanggung biaya transportasi yang tinggi.
Selain dirasakan langsung oleh petani, dampak kebijakan tersebut juga tercermin pada sejumlah indikator kesejahteraan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 mencapai 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) tercatat sebesar 132,84 atau meningkat 1,95 persen.
Pada puncak PENAS XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026), Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya meningkatkan kesejahteraan petani sebagai produsen pangan nasional.
"Saudara-saudara adalah produsen pangan. Tanpa pangan tidak ada negara. Karena itu petani harus hidup dengan baik, petani harus sejahtera, dan petani harus mendapatkan keuntungan dari hasil kerjanya," ujar Prabowo di hadapan puluhan ribu petani dan nelayan dari seluruh Indonesia.
Penurunan harga pupuk bersubsidi menjadi salah satu kebijakan yang kini diakui langsung manfaatnya oleh petani di berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Kalimantan. Kebijakan tersebut dinilai membantu meningkatkan keuntungan usaha tani sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.










