TVRINews, Jakarta
Kekurangan folat menjadi salah satu masalah gizi mikro yang paling banyak ditemukan pada anak usia sekolah di Indonesia. Temuan ini berdasarkan penelitian SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) terhadap lebih dari 4.200 anak usia 7 hingga 18 tahun.
Penelitian dilakukan di 12 kabupaten/kota yang mewakili enam wilayah besar Indonesia. Hasilnya menunjukkan, kekurangan folat ditemukan pada sekitar 100 persen kabupaten/kota yang diteliti. Selain folat, masalah kekurangan kalsium ditemukan sekitar 78 persen dan vitamin A sebesar 25 persen.
Direktur SEAMEO RECFON, Prof. Rini Sekartini, mengatakan persoalan kekurangan zat gizi mikro juga berbeda berdasarkan jenjang pendidikan. Pada tingkat sekolah dasar, masalah yang banyak ditemukan antara lain kekurangan folat, kalsium, vitamin C, dan seng.
Sementara pada tingkat sekolah menengah atas, kekurangan folat, kalsium, dan vitamin C menjadi masalah yang paling umum.
Rini menegaskan, temuan tersebut tidak berarti seluruh anak Indonesia mengalami kekurangan folat. Penelitian dilakukan pada wilayah yang dipilih sebagai representasi untuk menggambarkan kondisi gizi anak usia sekolah secara nasional.
“Yang harus kita perhatikan adalah bagaimana menu makanan itu seimbang, sehingga gizi-gizi ini terpenuhi,” ujar Rini dalam keterangan yang diterima tvrinews di The Hermitage, a Tribute Portfolio Hotel, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 9 September 2026.
Menurutnya, pemenuhan gizi anak tidak seharusnya hanya berfokus pada satu jenis zat gizi atau mengandalkan suplemen. Pola makan yang seimbang dengan memanfaatkan pangan lokal perlu menjadi perhatian dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak.
SEAMEO RECFON juga menyusun rekomendasi menu selama tujuh hari berbasis pangan lokal untuk 12 kabupaten yang menjadi lokasi penelitian. Menu tersebut disesuaikan dengan pola makan dan ketersediaan pangan di masing-masing daerah.










