TVRINews - Jakarta
Pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang tidak berkelanjutan dinilai berpotensi menjerumuskan Indonesia ke dalam resource curse atau kutukan sumber daya alam. Karena itu, pembangunan nasional dinilai perlu diarahkan pada penguatan kualitas sumber daya manusia serta kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi dan bedah buku Prahara di Lembah Parau karya Mohamad Irfan yang diselenggarakan Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (ILUNI FIB UI) bersama Ikatan Alumni Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (ILUNI SIL UI) di Galeri Pembangunan Indonesia, Kementerian PPN/Bappenas.
Kegiatan yang didukung Center for Policy and Culture Lab dan Kementerian PPN/Bappenas itu menghadirkan Direktur Agama, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kementerian PPN/Bappenas, Ketua Umum ILUNI SIL UI sekaligus Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo, jurnalis Wisnu Prasetiyo, aktivis lingkungan Ginanjar Ariyasuta, serta penulis buku Mohamad Irfan. Diskusi dipandu oleh antropolog sekaligus Perencana Ahli Madya Kementerian PPN/Bappenas Ahmad Karim.
Ketua Umum ILUNI SIL UI Andre Notohamijoyo mengatakan Indonesia perlu belajar dari pengalaman sejumlah negara yang gagal mengelola kekayaan alamnya. Menurutnya, eksploitasi sumber daya alam yang tidak disertai tata kelola yang baik dapat memicu kemiskinan, konflik sosial, kerusakan lingkungan, hingga meningkatkan risiko bencana.

“Kita harus mulai bergeser pada pembangunan sumber daya manusia, bukan melulu pada pembangunan sumber daya alam saja. Jika tidak, kita akan terjebak dalam kutukan sumber daya alam,” katanya dalam keterangan yang diterima tvrinews.com pada Minggu, 12 Juli 2026.
Ketua ILUNI FIB UI Visna Vulovik menambahkan, berbagai persoalan yang diangkat dalam buku tersebut menjadi pengingat bahwa kebijakan publik harus lebih berpihak kepada kepentingan masyarakat. Ia menilai pemerintah perlu menghadirkan regulasi yang konkret, termasuk dalam tata kelola pertambangan dan penerapan keselamatan serta kesehatan kerja (K3).

Sementara itu, aktivis lingkungan Ginanjar Ariyasuta menilai pelaksanaan transisi energi di Indonesia masih menyimpan paradoks. Menurutnya, pengembangan industri baterai kendaraan listrik melalui hilirisasi nikel masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara, sehingga cita-cita menuju energi bersih belum sepenuhnya terwujud.
Dalam kesempatan yang sama, jurnalis Wisnu Prasetiyo menyoroti masih berulangnya persoalan ketenagakerjaan di Indonesia. Ia membandingkan praktik kerja paksa di Tambang Ombilin pada masa kolonial dengan sejumlah kasus yang terjadi saat ini, sebagai bukti bahwa perlindungan terhadap pekerja masih menjadi pekerjaan rumah.
Penulis Prahara di Lembah Parau, Mohamad Irfan, mengatakan novel tersebut lahir dari pengalaman pribadinya ketika mendampingi buruh saat masih menjadi mahasiswa. Ia berharap karya tersebut dapat menjadi ruang refleksi sekaligus mendorong dialog yang lebih luas mengenai persoalan lingkungan, ketenagakerjaan, dan kebijakan publik.
Selain diskusi, peserta juga mengikuti tur edukasi di Galeri Pembangunan Indonesia. Melalui kolaborasi ini, ILUNI FIB UI dan ILUNI SIL UI berkomitmen memperkuat budaya.










