
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews – Jakarta
Kementerian Pertanian mencatat penurunan harga pakan unggas di tingkat produsen guna menjaga stabilitas sektor peternakan nasional.
Tren penurunan harga pakan ternak mulai terlihat di pasar domestik Indonesia pada periode Februari hingga awal Maret 2026.
Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan pergerakan harga ini diharapkan mampu meringankan beban biaya operasional para peternak, khususnya di sektor perunggasan yang sangat bergantung pada pasokan pakan pabrikan.
Data yang dihimpun melalui Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) menunjukkan bahwa koreksi harga terjadi secara variatif pada berbagai lini produk pakan, mulai dari fase starter hingga masa produksi.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyatakan bahwa perkembangan ini merupakan sinyal positif bagi keberlanjutan industri protein hewani di tanah air.
"Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena akan membantu menurunkan biaya produksi," ujar Agung di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis 5 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa efisiensi ini krusial untuk menjaga stabilitas harga produk peternakan di tingkat konsumen.
Detail Penurunan Harga
Berdasarkan laporan resmi Kementan, penurunan paling signifikan terjadi pada pakan ayam pedaging (broiler) fase starter (BR1).
Tercatat, rata-rata harga turun sebesar Rp112 per kilogram, bahkan beberapa produsen melakukan penyesuaian hingga Rp600 per kilogram.
Saat ini, rata-rata harga produsen untuk jenis ini berada di kisaran Rp8.010 per kilogram.
Jenis pakan lainnya juga mengikuti tren serupa:
• Pakan Broiler Pre-Starter (BR0) : Turun rata-rata Rp82 menjadi Rp8.451 per kilogram.
• Pakan Broiler Finisher (BR2) : Turun rata-rata Rp89 menjadi Rp7.967 per kilogram.
• Pakan Layer Masa Produksi (P3) : Turun rata-rata Rp86 menjadi Rp6.803 per kilogram.
• Konsentrat Layer (KP3) : Turun rata-rata Rp74 menjadi Rp7.735 per kilogram.
Meski demikian, penyesuaian harga ini belum dilakukan secara serentak oleh seluruh pelaku industri. Dari 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, baru sekitar 38 persen atau 33 pabrik yang telah menurunkan harga mereka.
Optimalisasi Bahan Baku Lokal
Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, mengungkapkan bahwa industri terus berupaya melakukan efisiensi agar harga tetap kompetitif di tengah dinamika pasar.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif," tuturnya.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan penguatan produksi jagung nasional yang ditekankan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Pemerintah menegaskan fokus pada swasembada bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan luar negeri.
Dalam tinjauan sebelumnya di Bekasi, Menteri Amran menyoroti keberhasilan Indonesia dalam menghentikan impor jagung pakan dan justru mulai melakukan ekspor ke negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Strategi ini merupakan bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk menekan harga pangan nasional melalui penguatan sektor hulu.
Editor: Redaksi TVRINews
