TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mengapresiasi pameran lukisan Art for Peace and a Better Future: Collaboration yang digelar SBY Art Community (SAC).
Menurut Riefky, pameran tersebut tidak sekadar menjadi ruang untuk menampilkan karya seni rupa, tetapi juga menjadi wadah bagi para seniman untuk menyampaikan refleksi terhadap berbagai persoalan global yang terjadi saat ini.
Riefky mengatakan, karya-karya yang ditampilkan dalam pameran tersebut menunjukkan bagaimana seniman dapat merespons situasi global melalui bahasa seni yang dapat dinikmati sekaligus dipahami masyarakat.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada SBY Art Community beserta para pelukis yang tergabung di dalamnya. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman menyampaikan respons dan refleksi terhadap situasi global yang terjadi saat ini," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 3 September 2026.
"Gagasan tersebut kemudian dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat, khususnya publik di Jakarta, melalui bahasa seni," lanjutnya.
Pameran yang berlangsung pada 18-30 Agustus 2026 di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, serta ASHTA District 8 SCBD itu menampilkan 150 lukisan terkurasi.

[Foto: TVRINews/HO-Kemenekraf]
Karya-karya tersebut terdiri dari 52 lukisan karya Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, 29 karya seniman asal Berlin Christopher Lehmpfuhl, 63 karya seniman SBY Art Community, lima karya seniman cilik, serta satu karya kolaborasi.
Lebih lanjut, Riefky menilai kolaborasi yang melibatkan seniman dari berbagai latar belakang tersebut perlu terus dikembangkan. Menurutnya, kolaborasi menjadi salah satu cara membuka kesempatan lebih luas bagi seniman Indonesia untuk berkarya sekaligus membangun jejaring di tingkat global.
"Kami berharap kolaborasi dalam SBY Art Community dapat terus berkembang dan membuka lebih banyak kesempatan bagi seniman Indonesia untuk berkarya dan berjejaring di tingkat internasional," ungkapnya.
Pameran ini turut didukung Kementerian Ekraf bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan, serta sejumlah mitra seni dan budaya. Dukungan lintas lembaga tersebut sekaligus memperkuat upaya mendorong Jakarta menjadi salah satu pusat seni rupa bertaraf internasional.
Sementara itu, SAC yang lahir dari gagasan Susilo Bambang Yudhoyono membawa tiga pilar utama, yakni resolusi konflik dan perdamaian, penegakan kemanusiaan, serta kelestarian lingkungan.
Salah satu karya yang menyoroti isu lingkungan ialah Greener World, No More Choice karya Akbar Linggaprana. Lukisan berukuran 200 x 300 sentimeter itu menggambarkan lanskap hutan dan samudra secara surrealistis sebagai refleksi kegelisahan terhadap krisis lingkungan. Melalui karya tersebut, Akbar mengangkat sejumlah persoalan, mulai dari kebakaran hutan, banjir, pemanasan global, penebangan liar hingga pencemaran industri.
"Apa yang kita hadapi seperti kebakaran hutan, banjir bahkan runtuhnya gletser atau bongkahan es di wilayah pegunungan Himalaya dekat perbatasan Nepal-Tibet adalah peringatan nyata untuk kita memperbaiki alam dan lingkungan kita," kata Akbar.










