TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong seni ukir Jepara agar mampu bersaing di pasar global.
Menurut Irene, seni ukir Jepara bukan sekadar produk furnitur, melainkan representasi nilai historis, ketekunan, dan estetika tinggi yang menjadi identitas bangsa. Karena itu, ia menilai karya-karya tersebut perlu didorong naik kelas menjadi produk kreatif premium yang diminati pasar internasional.

"Seni ukir Jepara adalah aset budaya yang harus mendunia. Kita ingin identitas bangsa semakin kuat sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajinnya," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 30 April 2026.
Ia menambahkan, pemerintah akan terus mendampingi pelaku usaha melalui perlindungan hak kekayaan intelektual (IP) serta membuka akses pasar digital yang lebih luas. Langkah ini dinilai penting agar karya kriya Indonesia tidak hanya berhenti di galeri, tetapi mampu menembus pasar global secara berkelanjutan.
Selain itu, Irene juga menekankan pentingnya strategi hilirisasi dalam pengembangan subsektor kriya. Dengan pendekatan tersebut, seni ukir Jepara diharapkan dapat menjadi bagian dari rantai industri kreatif bernilai tinggi yang mampu menarik minat kolektor dan investor mancanegara.
Pameran "Tatah" sendiri menjadi salah satu upaya konkret dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Ajang ini menghadirkan 35 karya seni ukir tematik, mulai dari karya kontemporer hingga karya maestro, dalam berbagai bentuk seperti patung, relief, dekorasi ruang, hingga mebel eksklusif.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas budaya, pameran ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok sekaligus meningkatkan ekspor furnitur nasional.










