TVRINews, Jakarta
Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima kunjungan delegasi Global Peace Foundation (GPF) atau Muasasah Risalah as-Salam di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu, 2 Mei 2026. Pertemuan ini membahas rencana pembukaan kantor pusat GPF di Indonesia sekaligus peluang kolaborasi dalam penguatan literasi Islam moderat dan pemanfaatan teknologi pendidikan.
Pimpinan delegasi, Majidi Tontowi, menyampaikan bahwa Indonesia menjadi negara ke-47 yang dijadikan mitra strategis oleh organisasinya. Ia menilai praktik keberagamaan di Indonesia sejalan dengan visi GPF dalam mempromosikan perdamaian global.
“Kami melihat nilai-nilai yang kami perjuangkan selaras dengan karakter masyarakat Indonesia. Islam di sini berkembang dengan pendekatan toleransi dan kasih sayang. Kami ingin menjadikan Indonesia sebagai mitra penting dalam menunjukkan bahwa Islam membawa solusi bagi perdamaian dunia,”ujar Majidi dalam keterangan tertulis, Sabtu, 2 Mei 2026.
Menanggapi hal tersebut, Menag menekankan pentingnya modernisasi dalam kajian keagamaan. Ia mendorong agar kerja sama ke depan tidak hanya berfokus pada kajian klasik, tetapi juga mengadopsi teknologi mutakhir, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
“Hubungan intelektual kita dengan Mesir sudah lama terjalin. Ke depan, kita ingin mengembangkan kajian ayat-ayat kauniyah dengan melibatkan ilmuwan Muslim dunia serta memanfaatkan teknologi AI,”ungkap Nasaruddin.
Menag juga menyambut positif rencana GPF untuk membuka kantor di Indonesia. Ia berharap kehadiran organisasi tersebut dapat memperkuat jejaring antara ulama Indonesia dengan komunitas akademik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah, Amerika, dan Eropa.
“Ini merupakan langkah awal yang baik. Kami mengapresiasi kehadiran para akademisi dari Mesir. Semoga kolaborasi ini memberikan manfaat nyata bagi pengembangan pendidikan dan perdamaian, baik di Indonesia maupun global,” pungkasnya.
Dalam pertemuan tersebut turut hadir sejumlah akademisi, di antaranya Abdul Rady Radwan dan Ridha Abdi Salam, yang memberikan pandangan mengenai pentingnya penguatan nilai-nilai perdamaian dalam pendidikan tinggi.










