TVRINews, Jakarta
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa pembangunan kawasan industri di Indonesia menunjukkan kemajuan pesat dalam satu tahun terakhir. Sebanyak sembilan kawasan industri baru telah berdiri di berbagai daerah, menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek sektor manufaktur nasional.
“Pertumbuhan kawasan industri merupakan bukti nyata bahwa Indonesia masih menjadi destinasi utama investasi sektor manufaktur di kawasan Asia. Sembilan kawasan industri ini memperkuat ekosistem manufaktur yang telah ada sebelumnya,”kata Agus dalam keterangan tertulis, Rabu, 22 Oktober 2025.
Kesembilan kawasan industri baru tersebut meliputi IPIP Sulawesi Tengah, I-Sentra Jawa Timur, Huadi Bantaeng Industrial Park Sulawesi Selatan, Kawasan Industri Cikembar II Jawa Barat, Kawasan Industri Losarang Jawa Barat, Purwakarta Integrated Industrial Park Jawa Barat, Kawasan Industri Pulau Penebang Kalimantan Barat, Kawasan Industri Seafer Jawa Tengah, dan Kawasan Industri Tembesi Kalimantan Barat.
Dengan tambahan tersebut, luas lahan kawasan industri nasional meningkat 4,81% atau setara 4.468 hektare. Jumlah tenant juga bertambah 132 perusahaan atau naik 1,12%.
“Pertumbuhan ini berkontribusi langsung terhadap peningkatan investasi sebesar Rp571,58 triliun atau naik 9,26%, serta menciptakan sekitar 310.000 lapangan kerja baru, meningkat 15% dibanding tahun sebelumnya,” jelas Menperin.
Selain memperluas kawasan industri, Kemenperin juga terus membuka akses pasar global bagi produk manufaktur Indonesia melalui berbagai kerja sama internasional. Agus menyebut tahun 2025 menjadi momentum penting karena Indonesia resmi bergabung dalam BRICS, serta menandatangani Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership (ICA-CEP) dan Indonesia–Peru Comprehensive Economic Partnership (IPE-CEP).
“Kerja sama ini akan memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global dan membuka peluang ekspor baru,”ucapnya.
Dalam rangka memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM), pemerintah juga meluncurkan program Kredit Industri Padat Karya (KIPK). Program ini menyediakan pembiayaan revitalisasi mesin dan peningkatan produktivitas dengan plafon Rp500 juta hingga Rp10 miliar, subsidi bunga 5%, dan tenor hingga delapan tahun.
“Hingga Oktober 2025, telah ditetapkan 13 lembaga penyalur dengan total plafon Rp754 miliar dan target 357 debitur,” tutur Agus.
Untuk mendorong iklim investasi, Kemenperin menerbitkan Permenperin Nomor 37 Tahun 2025 tentang Standar Kegiatan Usaha Berbasis Risiko. Selain itu, sebanyak 89 perusahaan di 116 lokasi telah ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional Industri (OVNI) guna menjamin keberlanjutan industri strategis.
Pemberian insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, dan investment allowance turut mendongkrak realisasi investasi hingga Rp827,8 triliun sepanjang Oktober 2024–Oktober 2025, tumbuh 6,44% dibanding tahun sebelumnya.
Untuk melindungi industri dalam negeri, pemerintah juga menerapkan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP)terhadap lima produk impor dan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap tujuh produk impor.
“Langkah ini penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan keberlanjutan industri nasional,” tegas Agus.
Dari sisi standardisasi, terdapat 5.113 Standar Nasional Indonesia (SNI) aktif di sektor industri, termasuk 88 rancangan standar baru dan 72 Standar Industri Hijau (SIH). Upaya ini mendukung penurunan emisi karbon hingga 7,2 juta ton CO?e pada 2024.
Kemenperin juga mencatat kemajuan signifikan dalam transformasi digital industri. Sebanyak 100 perusahaan telah meraih predikat Champion INDI 4.0, 29 perusahaan berstatus National Lighthouse, dan dua perusahaan telah mencapai level Global Lighthouse.
Dari sisi pengembangan sumber daya manusia (SDM), sektor industri telah meluluskan 4.595 siswa SMK dan 2.644 lulusan politeknik, sementara 2.587 peserta mengikuti pelatihan vokasi dan 713 orang memperoleh sertifikasi kompetensi internasional. Program magang luar negeri di Jepang dan Tiongkok juga terus diperluas untuk memperkuat kesiapan tenaga kerja industri di pasar global.
“Di tengah ketidakpastian global, industri kita tetap tangguh dan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Semua keberhasilan ini adalah hasil kerja keras bersama antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Menperin.
Agus optimistis, dengan kebijakan yang adaptif, sinergi lintas sektor, dan semangat inovasi berkelanjutan, industri Indonesia akan semakin mandiri, tangguh, dan berdaya saing global.










