TVRINews, Jakarta
Tindak lanjut Simposium Nasional 2026, Menbud Fadli Zon tegaskan pentingnya humaniora sebagai kompas moral pembangunan berkesadaran budaya.
Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi sentral dalam ekosistem pemajuan kebudayaan nasional.
Melalui program studi di bidang humaniora, kata Fadli Zon, perguruan tinggi menjalankan fungsi keberlanjutan (sustainability) dalam memelihara dan merawat warisan budaya Nusantara.
Hal itu disampaikan Fadli Zon dalam pertemuan strategis bersama para Guru Besar Bidang Humaniora dari berbagai perguruan tinggi di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.
"Kita mempunyai begitu banyak aset, perlu ada satu institusionalisasi, termasuk di dalamnya mengenai pengetahuan. Hal itu hanya bisa dilakukan pada bidang pendidikan. Dari situlah lahir para pemikir dan peneliti yang kelak meneruskan, mengembangkan, memanfaatkan, dan bahkan melahirkan inovasi-inovasi baru dari aset-aset budaya tersebut," papar Fadli Zon.
Untuk diketahui, audiensi tersebut merupakan tindak lanjut konkret dari rangkaian acara Simposium Nasional Guru Besar Humaniora, Trajektori dan Urgensi Humaniora Masa Depan yang diselenggarakan di Universitas Indonesia pada 11–13 Agustus 2026.

Foto: TVRINews/HO-Kemenbud
Langkah ini diambil sebagai upaya terpadu dalam membangun fondasi pembangunan nasional yang berkesadaran budaya, serta memperkuat posisi ilmu humaniora di tengah dinamika peradaban modern.
Humaniora sebagai Kompas Moral di Era STEM dan AI
Menbud Fadli menegaskan bahwa ilmu humaniora tidak diposisikan sebagai "rival" bagi rumpun ilmu STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Sebaliknya, humaniora hadir sebagai kompas moral, etis, dan budi pekerti yang berjalan selaras dengan STEM guna memperkuat kesejahteraan dan kemanusiaan.
"Pendekatan multidisipliner adalah sebuah keniscayaan. Tidak mungkin STEM berjalan tanpa ada humaniora, karena pada akhirnya harus berbasis pada kepentingan manusia dan kemanusiaan. STEM memberikan kemampuan untuk menciptakan teknologi dan pengetahuan lainnya, sementara humaniora memastikan teknologi tersebut digunakan dengan mempertimbangkan etika, moral, dan kemanusiaan," jelasnya.
Menyoroti perkembangan teknologi mutakhir seperti Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) khususnya dalam industri perfilman, Menbud Fadli optimis bahwa teknologi dapat mempercepat proses produksi tanpa harus menepikan peran sumber daya manusia. Kuncinya terletak pada kemampuan adaptasi seluruh elemen masyarakat dan perguruan tinggi.
Respon Dunia Akademik dan Sinergi Lintas Sektor
Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Dr. Untung Yuwono, menyampaikan bahwa Simposium Nasional Guru Besar Humaniora 2026 diinisiasi untuk merespons tantangan peradaban kontemporer, memperkokoh eksistensi ilmu humaniora, serta menjawab berbagai persoalan kebangsaan melalui pendekatan multidisipliner.
Maka dari itu, Menbud Fadli Zon menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk terus membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya, mengingat pemajuan kebudayaan tidak dapat dikerjakan secara parsial.
"Kementerian Kebudayaan selalu membuka diri, karena pemajuan kebudayaan tidak mungkin dilakukan sendiri. Pemerintah pusat harus bekerja sama dengan seluruh kementerian atau lembaga, pemerintah daerah, swasta, dan tentu dengan perguruan tinggi," pungkas Menbud Fadli Zon.










