TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, mendorong perluasan pasar global bagi produk ekonomi kreatif Indonesia melalui partisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Kementerian Ekonomi Kreatif memfasilitasi 46 jenama unggulan dari subsektor kuliner, kriya, dan fesyen untuk menjajaki kemitraan bisnis dengan pembeli internasional.
Riefky mengatakan, partisipasi dalam TEI 2026 merupakan langkah strategis untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk kreatif Indonesia di perdagangan internasional.

"Kementerian Ekraf dalam TEI 2026 merupakan salah satu langkah strategis untuk memperluas akses pasar dan mendorong produk ekonomi kreatif Indonesia agar semakin berdaya saing di pasar global. Partisipasi ini sejalan dengan program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) yang dilakukan oleh Direktorat Kuliner, Fesyen, dan Kriya, guna mendorong jenama ekonomi kreatif agar semakin siap memasuki pasar ekspor," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Jumat, 16 Oktober 2026.
Sebanyak 46 jenama yang difasilitasi terdiri atas 16 jenama kuliner, 18 jenama kriya, dan 12 jenama fesyen. Produk-produk tersebut dikurasi untuk memperkenalkan karakter, kreativitas, serta keunggulan produk lokal kepada calon pembeli dari berbagai negara.
Pada subsektor kuliner, peserta menampilkan beragam produk, mulai dari makanan olahan, camilan, minuman, madu, kopi, teh, cokelat, bumbu siap saji, hingga produk siap santap. Sementara itu, subsektor kriya menghadirkan produk berbahan logam, kulit, kayu, keramik, tekstil, anyaman, kaca, dan lilin aromatik.
Adapun subsektor fesyen menampilkan berbagai koleksi busana pria dan wanita, produk berbahan tenun dan lurik, batik, modest fashion, aksesori etnik, tas, sarung tangan kulit, hingga produk bordir.
Riefky menuturkan, kehadiran jenama binaan program ASIK diharapkan tidak hanya memperkuat promosi produk kreatif Indonesia, tetapi juga membuka peluang pertemuan dan kerja sama bisnis dengan pembeli internasional.
Salah satu jenama binaan program ASIK subsektor kuliner, Pempek Cik Molek, merasakan manfaat dari kesempatan mengikuti pameran tersebut. Pemilik Pempek Cik Molek, Yeni, menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Ekraf karena dapat mempromosikan produk kepada calon pembeli dari luar negeri.
Yeni mengungkapkan, Pempek Cik Molek berhasil menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan pihak Jepang pada hari pelaksanaan pameran.
"Kami sangat berterima kasih sekali kepada Kementerian Ekraf karena kami diberi kesempatan untuk hadir di Paviliun Kementerian Ekraf. Di sini kami bisa mempromosikan terutama kami fokus untuk ekspor, karena lebih fokusnya untuk buyer-buyer ke luar negeri, alhamdulillah Pempek Ce Molek tepat hari ini kita ada MOU dengan Jepang," imbuh Yeni.
TEI 2026 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 dengan mengusung tema The Ultimate Hub for Global Sourcing. Pameran perdagangan internasional tersebut menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli dan mitra bisnis dari berbagai negara.
Untuk mendukung penjajakan kerja sama, TEI 2026 juga menghadirkan sejumlah program, antara lain business matching B2B, misi dagang, forum bisnis, dan konsultasi bisnis.
Melalui partisipasi dalam TEI 2026 dan program ASIK, Kementerian Ekraf berharap semakin banyak jenama lokal yang mampu memperluas jangkauan pasar, membangun kemitraan internasional, dan meningkatkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap ekspor Indonesia.










