
Dalam 5 Tahun, Pemerintah Targetkan 5.758 Desa Berlistrik
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan target pemerintah untuk mengaliri listrik ke 5.758 desa yang hingga kini belum menikmati akses listrik. Program ini akan dilaksanakan melalui skema Listrik Desa (Lisdes) sepanjang periode 2025–2029, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Melalui Program Lisdes, pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik dengan total kapasitas 394 megawatt (MW) serta penyambungan listrik ke 780.000 rumah tangga. Proyek ini diperkirakan membutuhkan investasi hingga Rp 50 triliun.
“Selama lima tahun ke depan, tugas kami adalah mengidentifikasi desa-desa yang belum teraliri listrik dan menyusun program terobosan guna memastikan seluruh masyarakat, termasuk di wilayah pelosok, mendapatkan akses listrik selama 24 jam,” ujar Bahlil dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (30/5/2025).
Bahlil menegaskan bahwa akses terhadap listrik merupakan hak dasar warga negara. Ia menyebutkan bahwa masih banyak desa, terutama di wilayah terpencil dan terisolasi, yang belum menikmati layanan listrik dari negara. Oleh karena itu, kehadiran listrik di desa-desa ini menjadi tanggung jawab negara dan sekaligus peluang investasi.
“Penyediaan listrik untuk desa-desa belum berlistrik bukan hanya tugas negara, tetapi juga bisa menjadi peluang investasi yang menjanjikan. Pemerintah membuka kesempatan bagi para investor untuk berkolaborasi dalam mewujudkan energi yang berkeadilan,” jelasnya.
Program Lisdes akan dijalankan oleh PT PLN yang ditugaskan membangun jaringan distribusi ke seluruh pelosok negeri. Hingga akhir 2024, sebanyak 83.693 desa dan kelurahan di Indonesia tercatat telah teraliri listrik. Selain program Lisdes, sejak 2022 hingga 2024 Kementerian ESDM juga telah menyalurkan 367.212 sambungan listrik gratis melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) bagi rumah tangga kurang mampu.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga menceritakan pengalaman pribadinya yang tumbuh besar di daerah tanpa listrik, tepatnya di Maluku Tengah.
“Saya lahir menggunakan lampu pelita, bukan di rumah sakit. Sampai SD pun, saya belajar dengan penerangan dari pelita berbahan bakar minyak tanah. Bangun pagi-pagi, kening saya sering hitam karena asap lampu,” ungkapnya.
Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk menyelesaikan elektrifikasi desa secara bertahap hingga tahun 2029.
Baca Juga:
| Wamendagri: Pemerintah Akan Tindak Tegas Ormas yang Melanggar |
Editor: Redaksi TVRINews
