TVRINews, Aceh
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra Tito Karnavian mendorong pemerintah daerah mempercepat upaya pemulihan pascabencana hidrometeorologi, termasuk dengan membuka peluang kerja sama bersama pihak ketiga dalam penanganan sedimentasi dan normalisasi sungai.
Hal tersebut disampaikan Tito saat Rapat Koordinasi dan Evaluasi Capaian Penanganan serta Percepatan Pemulihan Pascabencana Hidrometeorologi di Aceh yang dihadiri Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan 18 kepala daerah kabupaten/kota terdampak bencana di Banda Aceh.
Menurut Tito, keterlibatan pihak ketiga dapat menjadi alternatif untuk mempercepat normalisasi sungai, khususnya pada alur sungai yang tidak memiliki tingkat risiko banjir tinggi. Dengan skema tersebut, pemerintah daerah tidak perlu sepenuhnya menunggu penanganan dari pemerintah pusat.
"Sungai yang tidak rawan banjir kembali mungkin lebih baik diserahkan kepada pemerintah daerah, lalu pemda kerja sama dengan pihak ketiga. Kalau tidak, tidak selesai kalau harus dikerjakan pemerintah pusat semua," kata Tito dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Rabu, 10 Juni 2026.
Ia menjelaskan proses normalisasi sungai masih membutuhkan waktu panjang dan diperkirakan berlangsung hingga 2028. Sehingga, percepatan di tingkat daerah dinilai penting untuk mendukung pemulihan wilayah terdampak sekaligus menggerakkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat.
"Masih banyak yang harus dikerjakan. Bisa sampai 2028 soal normalisasi sungai ini. Kalau ada pihak ketiga, ya sudah biar pihak ketiga saja," ujar Tito.
Berdasarkan data Satgas PRR, program normalisasi sungai mencakup 115 lokasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, 34 sungai telah selesai ditangani, sementara 91 lokasi masih dalam proses pengerjaan.
Untuk normalisasi muara sungai, terdapat 38 lokasi yang menjadi sasaran. Hingga saat ini, sembilan lokasi telah selesai dikerjakan dan 31 lokasi lainnya masih dalam tahap penanganan.
Sementara itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menekankan pentingnya percepatan pemulihan sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan mata pencaharian masyarakat.
Menurutnya, perbaikan sawah, tambak, irigasi, serta infrastruktur dasar harus menjadi prioritas dalam tahap rehabilitasi pascabencana.
"Semua butuh penanganan. Yang paling urgent itu sawah yang belum bisa dipakai, irigasi, jembatan, jalan, dan tambak. Ini berkaitan langsung dengan mata pencaharian masyarakat Aceh," ucap Muzakir.
Muzakir juga menyoroti perlunya normalisasi sungai untuk mengurangi risiko banjir yang berulang di sejumlah wilayah. Menurutnya, masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai menjadi kelompok yang paling sering terdampak saat curah hujan tinggi.
"Sungai-sungai juga perlu kita benahi supaya saat hujan tidak terjadi banjir lagi. Masyarakat yang tinggal dekat sungai selalu terdampak. Barang-barang rumah tangga yang baru dibeli kembali rusak karena terendam banjir," tutur Muzakir.










