TVRINews - Magetan, Jawa Timur
Produksi kerajinan kulit lokal Magetan melonjak tajam berkat modernisasi alat dan pendampingan digital.
Di tengah ketatnya persaingan industri kreatif, kelompok pengrajin kulit Akasia Industry di Desa Ringinagung, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mencatatkan lompatan produktivitas yang signifikan.
Berkat intervensi teknologi dan tata kelola usaha yang dihadirkan oleh Politeknik Negeri Madiun (PNM), kapasitas produksi perajin lokal dilaporkan melonjak hingga lebih dari tujuh kali lipat, mengubah skala operasional dari konvensional menjadi kompetitif.
Sebelum program pendampingan ini bergulir pada April 2026, kelompok yang digawangi oleh 15 anggota ini menghadapi berbagai kendala klasik industri rumahan.
Mengandalkan mesin jahit konvensional yang sejatinya dirancang untuk kain, para perajin kerap mendapati jarum patah atau jahitan tidak presisi saat mengolah kulit tebal. Akibatnya, tingkat produk cacat mencapai 15 hingga 20 persen, yang berujung pada sering ditolaknya pesanan mendadak dalam jumlah besar.
Menanggapi kompleksitas tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat PNM yang dipimpin oleh Muhammad Syaeful Fajar mengambil pendekatan holistik. Program ini tidak hanya berfokus pada modernisasi alat, tetapi juga merombak lini manajerial dan pemasaran secara serentak.
"Kalau kami hanya membenahi pemasarannya, permintaan memang naik tetapi tidak akan terlayani karena mesinnya tidak sanggup. Sebaliknya, kalau kami hanya memberi mesin, hasil produksinya menumpuk karena pasarnya tetap sebatas wisatawan yang lewat. Karena itu sejak awal kami putuskan ketiganya digarap sekaligus, yaitu produksi, pembukuan, dan pemasaran," ujar Syaeful dikutip Minggu 16 Agustus 2026.
Pada aspek teknis produksi, tim menyematkan mesin jahit industri khusus kulit serta menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat. Anggota tim teknis, Achmad Aminudin, memaparkan bahwa pembenahan alur kerja ini berhasil memangkas waktu produksi per unit secara drastis.
"Setelah pakai mesin jahit industri dan alur kerjanya kami seragamkan lewat standar operasional prosedur, waktu proses per unit turun sekitar 30 persen dan produk cacat tinggal di bawah 5 persen," kata Aminudin.
Dampak positif dari pembaruan ini dirasakan langsung oleh pemilik Akasia Industry, Hananta Arigio. Ia mengaku kini lebih percaya diri untuk menerima kontrak pengadaan dalam skala yang lebih luas tanpa khawatir kewalahan.
"Dulu kalau ada pedagang minta tambahan barang mendadak, kami sering terpaksa menolak karena tidak mungkin kekejar. Sekarang dengan hasil produksi yang meningkat, kami berani menerima pesanan yang lebih besar dan anak-anak di sini kerjanya juga lebih rapi karena sudah ada panduan tertulisnya," tutur Hananta.
Selain mendongkrak efisiensi fisik, program yang dibiayai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini juga menyentuh aspek finansial dan perluasan pasar. Pendamping kewirausahaan, Yuli Prasetyo, mengungkapkan pentingnya pelatihan pembukuan berbasis lembar sebar agar perajin mampu menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) secara akurat.
"Banyak usaha kecil produksinya naik tetapi labanya tidak ikut naik, karena harga jualnya ditetapkan berdasarkan perkiraan. Begitu mitra tahu persis berapa harga pokok produksi tiap model, mereka bisa menetapkan harga baru dengan percaya diri dan berani menambah varian produk," jelas Prasetyo.
Perluasan jangkauan pasar turut diperkuat melalui pembangunan situs web resmi multibahasa mencakup bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin—serta integrasi ke dalam lima kanal transaksi digital. Langkah strategis ini dirancang untuk menembus pasar internasional sekaligus melepaskan ketergantungan perajin pada fluktuasi algoritma media sosial.
Pendekatan kreatif berbasis konten digital yang digawangi oleh mahasiswa pelaksana, Surya Adi Paramadiwa, terbukti efektif menarik perhatian publik luas, di mana salah satu dokumentasi proses pembuatan sabuk manual berhasil menembus lebih dari 93 ribu tayangan di ranah daring.
Melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu yang melibatkan Program Studi Teknologi Informasi, Teknologi Rekayasa Otomotif, dan Teknik Listrik, inisiatif ini tidak hanya membangkitkan perekonomian mikro di Magetan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar melalui pelatihan finishing dan pengemasan yang berkelanjutan.










