TVRINews, Jakarta
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan Sekolah Rakyat dirancang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi, terutama bagi anak-anak dari keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi sekaligus ketertinggalan pendidikan.
Gus Ipul menyebut gagasan tersebut sejalan dengan pesan Presiden Prabowo Subianto bahwa kondisi ekonomi orang tua tidak boleh menentukan masa depan anak.
“Kalau bapaknya pemulung, anaknya tidak boleh jadi pemulung,” ujar Gus Ipul mengutip pernyataan Presiden Prabowo, Rabu, 28 Oktober 2026.
Ia juga mengingatkan pesan Presiden bahwa anak tidak harus mengikuti pekerjaan orang tuanya hanya karena keterbatasan ekonomi keluarga. Menurutnya, Sekolah Rakyat menyasar keluarga yang berada dalam kondisi paling rentan, yakni keluarga kurang mampu yang juga tertinggal dalam pendidikan.
Kelompok ini dinilai menghadapi tantangan lebih besar untuk keluar dari kemiskinan karena keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan terjadi secara bersamaan.
Gus Ipul menjelaskan kondisi keluarga siswa Sekolah Rakyat mencerminkan kerentanan tersebut. Lebih dari separuh keluarga siswa memiliki penghasilan di bawah Rp1 juta.
Dua dari tiga keluarga menanggung empat orang atau lebih, sementara sekitar sepertiga keluarga masih menumpang atau menyewa rumah. Selain itu, hampir separuh ayah siswa bekerja sebagai buruh tani atau buruh harian.
“Di kuadran inilah kemiskinan paling mudah diwariskan,” kata Gus Ipul saat menjelaskan kelompok keluarga yang menjadi sasaran Sekolah Rakyat.
Ia menegaskan mekanisme penerimaan siswa Sekolah Rakyat tidak mengandalkan pendaftaran terbuka. Pemerintah justru melakukan penjangkauan langsung untuk menemukan anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan.
“Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran. Yang ada adalah penjangkauan. Negaralah yang datang mengetuk pintu,” ucap Gus Ipul.
Gus Ipul mengatakan berdasarkan data yang dihimpun, para pendamping telah mendatangi hampir setengah juta anak di 497 kabupaten dan kota.
Dari proses penjangkauan tersebut, pemerintah menemukan lebih dari 180.000 anak usia sekolah ternyata sudah bekerja. Temuan itu menunjukkan adanya anak-anak yang seharusnya berada di bangku pendidikan, tetapi turut menanggung beban ekonomi keluarga.
Melalui Sekolah Rakyat, pemerintah berupaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan agar keterbatasan ekonomi orang tua tidak menjadi penghalang bagi masa depan mereka.










