TVRINews, Jakarta
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan bahwa empat dari 10 anak Sekolah Rakyat memiliki bakat di bidang sains dan teknologi. Temuan tersebut berdasarkan pemetaan bakat terhadap lebih dari 11.000 siswa melalui metode Talent DNA.
Menurutnya, hasil pemetaan itu menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki potensi besar untuk berkembang, termasuk di bidang yang membutuhkan keterampilan dan keahlian khusus.
Bakat para siswa mengarah pada sejumlah profesi, mulai dari insinyur dan ahli teknologi hingga guru, penegak hukum, dokter, dan tenaga kesehatan. Gus Ipul juga menyoroti dua karakter yang dinilai menonjol di antara para siswa, yakni ketulusan dan kesetaraan.
Namun, ia mengatakan proses pendampingan anak-anak Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik. Pemerintah juga menemukan persoalan emosional dan kondisi sosial yang membutuhkan perhatian.
Berdasarkan asesmen psikologis, satu dari tiga anak memerlukan pendampingan terkait masalah emosional. Sementara, sekitar satu dari enam anak telah kehilangan ayah, ibu, atau keduanya.
“Karena itu, Sekolah Rakyat bekerja dengan dua pendekatan sekaligus, edukasi dan rehabilitasi. Mendidik sekaligus memulihkan,” ujar Gus Ipul, Rabu, 28 Oktober 2026.
Sebelum mengikuti pembelajaran, para siswa menjalani pemeriksaan kesehatan, pemetaan bakat, dan masa matrikulasi selama tiga bulan. Tahapan tersebut disiapkan untuk membantu anak-anak yang telah lama tidak bersekolah agar dapat mengejar ketertinggalan mereka.
Pendampingan sehari-hari dilakukan oleh hampir 5.000 guru, hampir 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama.
Gus Ipul menyebut para pendamping tersebut berperan penting dalam mendukung perkembangan anak, baik di lingkungan belajar maupun asrama.
Ia menjelaskan pengasuhan dan pengajaran di Sekolah Rakyat diarahkan untuk mendorong tiga perubahan, yakni kondisi fisik melalui pemenuhan gizi dan pemeliharaan kesehatan, kondisi mental melalui pemulihan luka emosional dan penguatan kepercayaan diri, serta kemampuan akademik melalui upaya mengejar ketertinggalan belajar.
Dari sisi infrastruktur, Gus Ipul menyampaikan bahwa 100 Sekolah Rakyat permanen telah dibangun. Sebanyak 93 sekolah telah digunakan, sedangkan tujuh lainnya masih dalam proses pembangunan. Fasilitas yang disiapkan meliputi asrama, ruang kelas, laboratorium, ruang makan, tempat ibadah, dan sarana olahraga.
Dalam waktu singkat, Sekolah Rakyat juga mencatatkan 11 prestasi internasional, lebih dari 200 prestasi nasional, serta lebih dari 1.100 siswa yang berprestasi di bidang olahraga, seni, dan sains.
Meski demikian, Gus Ipul menilai capaian Sekolah Rakyat tidak hanya diukur melalui penghargaan. Kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk kembali belajar, mengembangkan potensi, dan membangun kepercayaan diri juga menjadi bagian penting dari hasil program tersebut.
Ia mencontohkan siswa yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses pendidikan kini dapat tampil di hadapan publik dengan percaya diri, kembali membaca, dan mengenal lingkungan sekolah.
Melalui pendekatan pendidikan yang disertai pemulihan sosial, Sekolah Rakyat diharapkan dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan sekaligus memperluas kesempatan mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik.










