TVRINews – Flores, NTT
Rangkaian guncangan dangkal di Flores capai ribuan kali, warga diimbau waspada bangunan rusak.
Aktivitas kegempaan susulan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menunjukkan frekuensi yang sangat rapat hingga Selasa 18 Agustus 2026 pagi, menandakan fase darurat pascagempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 belum sepenuhnya berakhir.
Berdasarkan data pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), total gempa susulan telah menembus angka ribuan kejadian setelah guncangan utama melanda kawasan tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
"Update gempa bumi susulan gempa Flores M 7,7 hingga tanggal 18 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, total gempa bumi susulan mencapai 2.119 kali," ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto pada keterangan resminya.
Lebih lanjut, pihak BMKG merinci bahwa dari ribuan aktivitas seismik tersebut, magnitudo terbesar tercatat berada di angka 6,2, sementara guncangan dengan kekuatan di atas magnitudo 5 teridentifikasi sebanyak 24 kali. Rangkaian gempa dangkal beruntun ini masih terus dirasakan oleh warga di sejumlah titik pemulihan.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa konsolidasi data korban jiwa dan luka-luka masih terus diverifikasi secara berkala bersama aparat dan pemerintah daerah setempat.
Hingga laporan terakhir yang dirilis, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 68 jiwa, dengan 213 warga mengalami luka-luka akibat dampak guncangan keras.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, and Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa tim gabungan di bawah koordinasi Badan SAR Nasional (Basarnas) tetap siaga penuh di tujuh kabupaten terdampak untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan dan memastikan tidak ada warga yang terabaikan.
"Tim dari Basarnas masih siaga di tujuh kabupaten terdampak. Hingga saat ini sudah tidak ada laporan warga yang hilang di wilayah terdampak, namun upaya penyisiran dan penerjunan personel secara optimal tetap dilakukan di lapangan," jelas Berton.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah kini fokus mengoptimalkan jalur distribusi logistik, pelayanan kesehatan darurat melalui pendirian rumah sakit lapangan, serta percepatan pemulihan jaringan listrik serta telekomunikasi yang sempat terganggu.
Pihak berwenang terus mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap tenang, menghindari bangunan yang mengalami kerusakan struktur atau belum dinyatakan aman, serta menyimak informasi resmi dari instansi terkait guna menghindari disinformasi.










