TVRINews, Kendari
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mengajak pemerintah daerah (Pemda) di kawasan Asia Pasifik memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pembangunan regional yang inklusif.
Ajakan tersebut disampaikan Wiyagus saat menghadiri United Cities and Local Government Asia-Pacific (UCLG ASPAC) Executive Bureau Meeting and Asia-Pacific Forum di Phinisi Ballroom Hotel Claro, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat, 8 Mei 2026.
Menurutnya, forum tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat solidaritas antardaerah dalam menghadapi berbagai tantangan global.
“Kita berkumpul untuk menjawab satu tantangan besar, yaitu memperkuat tata kelola lokal untuk pariwisata berkelanjutan dan pembangunan regional yang inklusif,” ujar Wiyagus dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Jumat, 8 Mei 2026.
Ia memaparkan Indonesia memiliki potensi besar di sektor pariwisata, mulai dari kekayaan alam, budaya, hingga keberagaman masyarakat. Posisi Indonesia di garis khatulistiwa dengan iklim tropis juga dinilai mendukung aktivitas wisata sepanjang tahun.
Wiyagus menjelaskan pemerintah saat ini tengah mendorong pengembangan lima destinasi superprioritas dan sepuluh kawasan wisata prioritas, termasuk Wakatobi di Sulawesi Tenggara.
Langkah tersebut dilakukan untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tersebar di berbagai daerah.
Namun demikian, ia mengingatkan pengembangan pariwisata harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, persoalan sampah plastik dan limbah makanan menjadi tantangan serius yang harus diatasi bersama.
“Dalam RPJMN 2025-2029 Indonesia melakukan pergeseran paradigma dari mass tourism menuju quality tourism,” kata Wiyagus.
Konsep quality tourism tersebut menitikberatkan pada pembangunan destinasi wisata berkualitas dengan dampak lingkungan seminimal mungkin.
Karena itu, melalui forum UCLG ASPAC, Wiyagus mengajak seluruh daerah mempercepat penerapan konsep blue economy, green economy, dan circular economy di wilayah masing-masing.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengusulkan lima langkah aksi bersama, yakni membentuk jejaring dan memperkuat kolaborasi pemangku kepentingan di kawasan Asia Pasifik, mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berbasis pariwisata berkelanjutan.
Kemudian, menerapkan prinsip pengembangan wisata berkelanjutan, memanfaatkan transformasi digital untuk memantau dampak lingkungan dan meningkatkan pengalaman wisatawan, serta memperkuat ekonomi kreatif dan pemberdayaan UMKM lokal.
Wiyagus berharap forum tersebut dapat menjadi wadah pertukaran praktik terbaik antardaerah sekaligus melahirkan kesepakatan strategis yang dapat diterapkan secara nyata.
“Mari kita jadikan pariwisata sebagai instrumen perdamaian, kesejahteraan, dan keberlanjutan bagi seluruh rakyat di Asia Pasifik,” tutur Wiyagus.










