TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan bahwa ijazah perguruan tinggi kini tidak lagi menjadi satu-satunya syarat utama untuk memasuki dunia kerja. Di tengah pesatnya transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), dunia industri dinilai lebih membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi, keterampilan, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah akan kembali menjalankan program MagangHub (Pemagangan Nasional) yang ditujukan bagi lulusan diploma dan sarjana atau fresh graduate.
Program yang didukung anggaran sebesar Rp4,14 triliun itu dirancang untuk meningkatkan kompetensi lulusan sekaligus mempercepat proses transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja.
“Saat ini kita berada di era transformasi ketenagakerjaan yang bergerak sangat cepat. Dunia industri tidak lagi hanya mencari individu yang memegang selembar ijazah, melainkan mencari sarjana yang cakap dan memiliki kompetensi nyata,”ujar Afriansyah dalam keterangan tertulis, Senin, 15 Juni 2026.
Menurutnya, MagangHub menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan keterampilan (skill gap) dan ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Melalui program tersebut, peserta akan mendapatkan berbagai manfaat, seperti uang saku, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, pendampingan dari mentor profesional, hingga kesempatan mengikuti sertifikasi kompetensi yang diakui secara nasional.
Afriansyah menilai sertifikasi kompetensi memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Ijazah tidak lagi cukup karena industri tidak lagi bertanya apa ijazah kamu, melainkan apa kompetensimu. Sertifikat kompetensi inilah yang menjadi bukti bahwa tenaga kerja kita memiliki standar kemampuan yang dibutuhkan industri,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi ketenagakerjaan nasional menunjukkan perkembangan positif. Hingga Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 4,68 persen. Meski demikian, tantangan akibat disrupsi teknologi, otomatisasi, dan munculnya kebutuhan kompetensi baru masih membutuhkan penguatan sistem pelatihan dan pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri.
Karena itu, Afriansyah mendorong UM Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) dan pelaku industri, terutama karena kampus tersebut berada di kawasan industri strategis Bekasi.
“Kampus, pemerintah, dan industri harus bergerak bersama menyiapkan SDM yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini maupun masa depan,”ucapnya.
Di hadapan ratusan wisudawan, Afriansyah juga mengingatkan pentingnya terus meningkatkan keterampilan dan kompetensi, serta tidak hanya mengandalkan gelar akademik dalam menghadapi persaingan dunia kerja.
“Investasi terbaik sebuah bangsa bukan pada sumber daya alamnya, melainkan pada kualitas sumber daya manusianya. Jadilah motor penggerak kemajuan ekonomi nasional,” pungkasnya.








