TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyebut jika penguatan talenta dan penguasaan sains dasar menjadi kunci bagi Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang berlangsung semakin cepat.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto juga menekankan bahwa kemajuan teknologi, mulai dari kecerdasan artifisial (AI) hingga quantum computing, harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi, bukan sekadar menggunakannya.
“Perkembangan teknologi ke depan ini sangat cepat. Pada akhirnya, yang dibutuhkan adalah talenta-talenta, SDM-SDM yang siap masuk ke wilayah itu, yang siap bertarung, dan terus bekerja di bidang-bidang teknologi,” ujar Brian dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Sabtu, 26 September 2026.
Menurutnya, Indonesia perlu mempersiapkan generasi muda agar memiliki kemampuan di bidang matematika, MIPA, teknik, serta basic science dan hard engineering. Bidang-bidang tersebut dinilai sebagai fondasi utama lahirnya inovasi dan teknologi strategis.
Brian juga menyoroti pentingnya membangun kemandirian teknologi nasional melalui penguatan kapasitas riset. Ia mencontohkan pengembangan chip untuk identitas digital, seperti paspor, SIM, dan KTP, yang tengah didorong bersama sejumlah mitra strategis nasional.
Selain itu, ia mengajak mahasiswa dan talenta digital untuk terus mengasah kemampuan, berkolaborasi lintas disiplin, serta berani mengembangkan solusi atas persoalan nyata di masyarakat.
“Teruslah belajar, teruslah mencoba, dan teruslah berusaha. Banyak karya yang bermanfaat lahir dari ketekunan memahami masalah dengan sesungguhnya,” katanya.
Mendiktisaintek menambahkan, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri perlu diperkuat agar hasil riset di kampus semakin relevan dengan kebutuhan lapangan sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi talenta muda Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa kebutuhan tenaga kerja berkompetensi digital terus meningkat. Menurutnya, penguatan talenta dan literasi teknologi menjadi tantangan bersama yang harus dijawab melalui kolaborasi lintas sektor.










