TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan harus menjadi bagian penting dalam strategi mewujudkan kemandirian ekonomi nasional. Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak hanya bertumpu pada aspek fiskal, moneter, atau perdagangan, tetapi juga harus didukung oleh kekuatan budaya, pengetahuan, dan kreativitas masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2026 bertema "Kebudayaan dan Ekonomi Kerakyatan: Fondasi Kemandirian Ekonomi Bangsa" di Jakarta International Convention Center (JICC).
Dalam forum yang mempertemukan kalangan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri tersebut, Fadli mengatakan kebudayaan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa, memperkuat kohesi sosial, serta mendorong inovasi yang mampu meningkatkan daya saing ekonomi.
"Kebudayaan adalah modal dan infrastruktur peradaban. Kebudayaan membentuk cara bangsa berproduksi, beradaptasi, berinovasi, dan membangun solidaritas. Karena itu, kebudayaan harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi kemandirian ekonomi, bukan sebagai elemen dekoratif atau pelengkap pembangunan,"kata Fadli Zon dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 29 Juni 2026.
Menurut Fadli, Indonesia memiliki potensi budaya yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, hingga diplomasi. Keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia, mulai dari sekitar 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, ribuan warisan budaya takbenda, hingga berbagai situs warisan dunia, dinilai menjadi modal penting dalam membangun ekonomi berbasis budaya.
Ia menambahkan, kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai identitas bangsa, tetapi juga menjadi sumber daya yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Kemandirian ekonomi yang kita cita-citakan harus tumbuh dari kekuatan sendiri, berpihak kepada rakyat, dan berakar pada kebudayaan Indonesia. Sebab bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang mengenal dirinya, menguasai sumber dayanya, memproduksi pengetahuannya, dan memastikan kesejahteraan kembali kepada rakyatnya," tegasnya.

(Foto: Kemenbud)
Dalam paparannya, Fadli juga menekankan pentingnya hilirisasi kebudayaan agar manfaat ekonomi dari warisan budaya, pengetahuan tradisional, dan kreativitas bangsa dapat dirasakan langsung oleh para pelaku budaya, seniman, perajin, komunitas adat, serta masyarakat di daerah asal kebudayaan tersebut.
Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Kebudayaan akan terus memperkuat sejumlah program strategis. Langkah yang disiapkan meliputi penguatan data kebudayaan nasional, perluasan hilirisasi kebudayaan, perlindungan hak cipta dan kekayaan intelektual komunal, peningkatan akses pembiayaan dan pasar bagi pelaku budaya, serta mendorong perguruan tinggi menjadi pusat riset, inovasi, dokumentasi, dan pengembangan industri budaya berbasis ilmu pengetahuan.
Sarasehan Kebangsaan KSTI Indonesia 2026 diselenggarakan sebagai forum strategis untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi, sains, dan teknologi dalam merumuskan strategi kemandirian ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Keuangan Yudhi Purbaya, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, serta sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan.
Di akhir pemaparannya, Fadli berharap Sarasehan Kebangsaan KSTI Indonesia 2026 dapat menghasilkan rekomendasi strategis yang memperkuat kemandirian ekonomi nasional melalui sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan.










