TVRINews, Kalimantan Tengah
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sampai saat ini, masih terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memperkuat operasi pemadaman darat. Hal tersebut, diungkapkan oleh Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.
Ia menuturkan, jika langkah ini dilakukan di tengah terbatasnya operasi udara akibat asap pekat dan rendahnya jarak pandang. Selain itu, kondisi cuaca yang saat ini membuat helikopter water bombing belum dapat dioperasikan secara optimal sehingga seluruh unsur penanganan diminta memaksimalkan kekuatan di lapangan.
“Saat ini kita tidak bisa mengandalkan helikopter water bombing. Bukan berarti tidak berguna, tetapi tidak bisa keluar,” ujar Suharyanto kutip laman akun YouTube resmi @bnpb_indonesia pada Selasa, 22 September 2026.
Berdasarkan data Posko Pengendalian Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah kata dia, sepanjang 1 Januari hingga 19 September 2026 tercatat lebih dari 142 ribu titik panas dan sekitar 3.800 kejadian karhutla.
“Luas lahan yang ditangani mencapai hampir 13 ribu hektare, sedangkan hasil analisis citra satelit Kementerian Kehutanan mencatat area terbakar seluas 7.634 hektare,” ungkapnya
Pada hari yang sama, lanjutnya sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah diselimuti asap tebal dengan jarak pandang sekitar 500 meter. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kualitas udara di sejumlah daerah, seperti Gunung Mas, Murung Raya, Kotawaringin Timur, Kapuas, dan Pontianak, berada pada kategori berbahaya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri telah menetapkan status tanggap darurat karhutla sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026. Sebanyak 13 kabupaten dan satu kota berstatus tanggap darurat, sementara Kabupaten Lamandau masih berstatus siaga darurat.










