TVRINews, Jakarta
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) membutuhkan investasi sekitar 70 hingga 73 miliar dolar AS.
Hal tersebut disampaikan Bahlil saat membuka Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Selasa, 22 September 2026.
Bahlil mengatakan pembangunan PLTS 100 GW merupakan bagian dari langkah Indonesia meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sekaligus mendukung pencapaian target net zero emission.
"Dan 100 gigawatt PLTS ini dalam hitungan yang dibuat oleh tim saya itu mencapai kurang lebih sekitar 70-73 miliar USD. Ini total investasi yang ada. Ini bukan pasar kecil Bapak-Ibu semua, ini pasar yang sangat besar," ujar Bahlil di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa, 22 September 2026.

(Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Selasa, 22 September 2026. [Foto: TVRINews/Lidya Thalia. S])
Ia menjelaskan, pemerintah telah memasukkan pembangunan pembangkit listrik dalam RUPTL Indonesia periode 2025-2034. Total kapasitas pembangkit yang direncanakan mencapai 69,5 GW, dengan 70 persen menggunakan bauran energi baru terbarukan.
Selain itu, pembangunan jaringan transmisi direncanakan mencapai sekitar 48 ribu kilometer sirkuit. Bahlil menilai kebutuhan investasi tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha dan investor untuk terlibat dalam pengembangan sektor energi Indonesia.
Untuk merealisasikan program tersebut, pemerintah akan membuka kolaborasi dengan pelaku usaha, akademisi, dan pihak terkait lainnya. Pemerintah juga akan memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri sepanjang kapasitas produksinya mencukupi.
"Kita mengharapkan untuk memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan daripada proyek 100 gigawatt maupun 69,5 gigawatt, kita akan memprioritaskan bahan-bahan produksi dari dalam negeri," tandasnya.
Bahlil menambahkan, pemerintah menargetkan pembangunan PLTS 100 GW tersebut dapat direalisasikan dalam waktu tiga tahun. Tahun ini, sekitar 5,5 GW telah diluncurkan sebagai tahap pertama, sementara perencanaan berikutnya mencapai sekitar 25 hingga 30 GW.










