TVRINews, Jakarta
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait menyebut kuota rumah subsidi tahun 2026 menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Hal itu disampaikan Maruarar dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa, 26 Mei 2026.
Menurut Maruarar, peningkatan kuota rumah subsidi tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan Giro Wajib Minimum Berbasis Insentif (GWMBI) dari 5 persen menjadi 4 persen.
"Kuota rumah subsidi-nya terbesar sepanjang sejarah. Biasanya paling besar 228 ribu, tahun lalu 350 ribu, tahun ini juga di APBN sudah 350 ribu," kata Maruarar dalam keterangannya, dikutip dari YouTube TVR Parlemen, Selasa, 26 Mei 2026.
Kemudian ia mengatakan, pemerintah terus mendorong berbagai kemudahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah, mulai dari pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) gratis, hingga insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk rumah di bawah Rp2 miliar.
Lebih lanjut, Maruarar juga menyebut Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian besar terhadap program rumah subsidi. Bahkan, Presiden disebut beberapa kali hadir langsung dalam agenda Kementerian PKP terkait perumahan rakyat.
"Dalam pidato Presiden juga selalu ditampilkan, solusi untuk itu adalah rumah subsidi. Presiden juga datang ke acara kementerian kami dua kali untuk rumah subsidi," ucapnya.
Selain peningkatan kuota FLPP, Kementerian PKP juga mencatat realisasi pembiayaan rumah subsidi atau FLPP tahun 2025 mencapai 278 ribu unit. Angka tersebut melampaui capaian tertinggi sebelumnya yang berada di angka 228 ribu unit pada 2023.
Dalam kesempatan itu, Maruarar turut memaparkan berbagai terobosan pembiayaan perumahan, termasuk skema FLPP swasta yang melibatkan sektor perbankan dan perusahaan swasta untuk membantu pembiayaan rumah subsidi masyarakat.
Pemerintah juga tengah mengembangkan proyek rumah susun subsidi di kawasan Meikarta dengan target mencapai 141 ribu unit. Proyek tersebut saat ini telah memasuki tahap land clearing dan groundbreaking.
"Kami berharap akhir tahun ini sudah bisa mulai transaksi secara bertahap," ungkapnya.










