TVRINews, Jakarta
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menginstruksikan percepatan pembangunan dua sabo dam di Sungai Batang Baliang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko banjir bandang atau galodo, terutama akibat material kayu, lumpur, dan sedimen yang terbawa arus sungai.
Selain pembangunan sabo dam, Kementerian PU telah memasang sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di tiga titik di Kabupaten Solok pada awal Oktober 2026. Sistem tersebut disiapkan untuk mendukung pemantauan kondisi lingkungan dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, pembangunan sabo dam di bagian hulu sungai perlu dipercepat untuk menahan material yang berpotensi terbawa arus menuju kawasan hilir dan permukiman warga.
“Saya sudah menginstruksikan Pak Dirjen Sumber Daya Air untuk mempercepat pembangunan sabo dam. Di bagian hulu Batang Baliang harus segera dibangun, paling tidak jika masih ada kayu atau lumpur dapat tertahan di atas (hulu),” kata Dody dalam keterangannya, dikutip Senin, 13 Oktober 2026.
Menurut Dody, keberadaan sabo dam menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan aliran debris atau material campuran air, tanah, batu, dan kayu yang dapat meningkatkan risiko kerusakan saat banjir bandang terjadi.
Untuk mempercepat pelaksanaan konstruksi, Kementerian PU merencanakan pembuatan komponen sabo dam menggunakan sistem pracetak (precast) di lokasi yang aman. Komponen tersebut kemudian diangkut dan dipasang secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi medan serta akses menuju lokasi pembangunan.
Penempatan dua sabo dam akan ditentukan berdasarkan kajian teknis di sepanjang alur Sungai Batang Baliang. Balai Teknik Sabo bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang masih melakukan perencanaan untuk menetapkan dimensi, kapasitas tampungan, dan detail konstruksi yang sesuai dengan kondisi sungai.
Bangunan sabo dam dirancang melintang pada alur sungai untuk menahan material yang terbawa arus sekaligus mengurangi energi aliran. Dengan demikian, pergerakan sedimen dapat dikendalikan dan risiko penumpukan material dalam jumlah besar di kawasan hilir diharapkan berkurang.
EWS Pantau Curah Hujan dan Pergerakan Tanah
Di sisi lain, Kementerian PU melalui Balai Teknik Sabo telah memasang EWS di tiga titik di Kabupaten Solok. Perangkat tersebut memantau sejumlah parameter lingkungan, antara lain curah hujan, pergerakan atau kemiringan tanah, serta kelembapan tanah.
Data dari sensor lapangan ditransmisikan ke sistem pemantauan berbasis dasbor untuk dianalisis secara berkala. Informasi tersebut menjadi salah satu sumber data pendukung dalam mengenali perubahan kondisi lingkungan yang berpotensi berkaitan dengan ancaman bencana.
Pemasangan EWS diharapkan dapat memperkuat pemantauan kondisi lapangan. Namun, efektivitas sistem peringatan dini juga memerlukan analisis data, penyampaian informasi kepada masyarakat, serta kesiapan petugas dalam merespons potensi bahaya.
Penanganan Darurat Terus Berjalan
Sementara itu, penanganan darurat di Sungai Batang Baliang masih berlangsung. Berdasarkan laporan per 12 Oktober 2026, pekerjaan perbaikan alur sungai dan pembersihan material banjir telah mencapai sekitar 740 meter dari target 1.900 meter.
Kementerian PU juga mengerjakan pemasangan cobble stone dengan target sepanjang 500 meter serta pembangunan perlindungan tebing menggunakan bronjong sepanjang 600 meter.
Untuk mendukung pekerjaan di lapangan, BWS Sumatera V Padang telah mengerahkan 19 unit peralatan. Peralatan tersebut terdiri atas sembilan excavator, dua excavator breaker, satu excavator long arm, tiga pompa bergerak (mobile pump), dan empat dump truck.
Kementerian PU terus menggabungkan penanganan darurat dengan persiapan infrastruktur pengendali sedimen. Upaya ini ditujukan untuk memulihkan kondisi sungai sekaligus mengurangi risiko dampak galodo terhadap masyarakat di sekitar Sungai Batang Baliang.










