TVRINews, Nusa Tenggara Timur
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 5.012 gempa susulan terjadi hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, setelah gempa utama mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan gempa susulan masih terus terjadi dengan magnitudo yang bervariasi.
"Kita sebagaimana tahu bahwa hingga saat ini gempa susulan masih sering terjadi dan hari ini kami mendapatkan jumlah gempa susulan sebanyak 5.012 kali. Magnitudo terbesar adalah 6,2 sedangkan yang terkecil adalah 1,1. Gempa susulan yang dirasakan warga sebanyak 124 kali," ujar Berton dalam konferensi pers yang ditayangkan secara daring, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Sementara, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi NTT hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, mencapai 87 orang. Secara kumulatif, korban meninggal dunia tersebut berasal dari Kabupaten Manggarai sebanyak 31 jiwa, Manggarai Timur 30 jiwa, Sikka 9 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Nagekeo 13 jiwa, dan Ngada 4 jiwa.
BNPB juga mencatat sebanyak 1.298 orang mengalami luka-luka, dengan 336 orang di antaranya mengalami luka berat.
"Sedangkan jumlah orang-orang yang luka atau korban yang luka ada mencapai 1.298 jiwa di mana yang luka berat sebanyak 336. Kabupaten Manggarai Timur dengan total 643 jiwa, ini merupakan luka yang terbanyak. Kemudian diikuti Kabupaten Manggarai sebanyak 285 jiwa," kata Berton.
Selain korban meninggal dan luka-luka, jumlah warga yang mengungsi juga mengalami peningkatan signifikan. Hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, BNPB mencatat sebanyak 150.576 jiwa berada di pengungsian.
"Saat ini pengungsi karena banyaknya gempa susulan, pengungsi juga bertambah dari angka yang kemarin 130 an ribu, sekarang sudah mencapai 150.576 jiwa," tutur Berton.
Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 41.427 jiwa, disusul Nagekeo sebanyak 34.256 jiwa dan Manggarai Timur sebanyak 31.372 jiwa.










