TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan tujuh unit helikopter untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Pemadaman dilakukan melalui operasi udara dan darat di sejumlah wilayah yang memiliki titik api tinggi.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan mengatakan tujuh helikopter yang dikerahkan terdiri atas helikopter Bell, Caravan, dan water bombing (WB).
"Sejauh ini wilayah Provinsi Riau kita sudah mengerahkan kurang lebih ada 7 unit heli yang terdiri dari heli Bell maupun karavan dan WB, di mana Satgas Udara yang tergelar di Provinsi Riau ini sudah melakukan pemadaman dan pendinginan di kurang lebih ada area yang terbakar itu 16.249," kata Djohan dalam konferensi pers yang ditayangkan secara daring, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Selain operasi udara, penanganan karhutla di Riau juga melibatkan sekitar 17.764 personel yang terdiri atas TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), BPBD, pihak swasta, dan unsur terkait lainnya.
Djohan mengatakan BNPB telah memetakan sejumlah wilayah yang memiliki titik api cukup tinggi, terutama Kabupaten Pelalawan. Di wilayah tersebut terdapat kawasan hutan lindung yang turut menjadi perhatian dalam penanganan karhutla.
"Perlu diketahui, di Provinsi Riau ini kita me-mapping ada beberapa daerah yang cukup tinggi titik apinya, khususnya di daerah Pelalawan, di mana di daerah ini ada daerah hutan lindung. Di sini cukup tinggi titik apinya, sehingga sampai saat ini juga kita masih maksimal untuk memadamkan di sana, termasuk juga di wilayah Bengkalis dan Rokan Hilir. Ini yang menjadi hotspot-hotspot yang tinggi," kata Djohan.
Sementara itu, wilayah lain seperti Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, dan Kampar tetap menjadi perhatian. Pemadaman dilakukan melalui operasi udara maupun pengerahan personel darat, terutama di lokasi yang sulit dijangkau helikopter.
Djohan menjelaskan, operasi water bombing tidak dapat dilakukan secara maksimal di sejumlah lokasi karena terdapat jaringan saluran udara tegangan ekstra tinggi (sutet) yang melintang di atas area kebakaran.
"Kenapa tidak tembus waterbombing? Mungkin di atasnya itu ada jaringan sutet yang membentang, sehingga tidak bisa maksimal waterbombing untuk beroperasi di atasnya," pungkasnya.










