TVRINews, Jakarta
Pemerintah terus menjalankan program elektrifikasi untuk memperluas akses listrik hingga ke wilayah perdesaan dan daerah terpencil di seluruh Indonesia. Dari target 10.068 lokasi, hingga Agustus 2026 baru 1.516 lokasi atau sekitar 15 persen yang telah terealisasi.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari mengatakan, program tersebut mengacu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 316 Tahun 2025 tentang Petunjuk Program Listrik Perdesaan dan Bantuan Pasang Baru Listrik Tahun 2025-2029.

(Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari. [Foto:TVRINews/Krisafika Taraisya])
"Dari total target tersebut, elektrifikasi sejauh ini telah terealisasi di 1.516 lokasi atau sekitar 15 persen dari target," ujar Qodari kepada wartawan termasuk tvrinews.com dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu, 16 September 2026.
Program elektrifikasi tersebut menyasar dusun dan desa yang selama ini belum sepenuhnya menikmati akses listrik, termasuk wilayah pegunungan dan pulau terpencil dengan jumlah penduduk yang minim. Secara keseluruhan, target 10.068 lokasi itu tersebar di 8.561 desa, 2.295 kecamatan, 375 kabupaten/kota, dan 36 provinsi.
Kemudian Qodari menjelaskan, pelaksanaan program Listrik Desa (Lisdes) dilakukan secara bertahap sesuai peta jalan 2025-2029. Tahapannya meliputi penetapan dan verifikasi lokasi, penyusunan perencanaan teknis dan anggaran, pengadaan dan pembangunan infrastruktur listrik, hingga penyambungan, pengoperasian, serta pemeliharaan.
Untuk wilayah yang masih dapat dijangkau jaringan PLN, elektrifikasi dilakukan melalui perluasan jaringan yang telah tersedia. Sementara itu, wilayah yang belum terjangkau jaringan existing akan mendapatkan pembangkit skala kecil berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) dengan sistem off-grid.
"Sebanyak 5.466 lokasi dilayani melalui jaringan listrik yang sudah ada. Sehingga kebutuhan dayanya dipenuhi dari sistem pembangkitan dan jaringan existing tanpa memerlukan pembangkit baru," jelasnya.
"Sementara 4.602 lokasi lainnya berada di wilayah yang belum dapat didangkau oleh jaringan existing. Sehingga memerlukan pembangunan pembangkit sekala kecil yang bersifat off-grid dengan total kebutuhan kapasitas pembangkit baru sekitar 508 megawatt," lanjutnya.
Menurut Qodari, kehadiran listrik di wilayah perdesaan tidak hanya memberikan penerangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat serta mendorong pemerataan pembangunan.
Pembiayaan program elektrifikasi 10.068 lokasi tersebut diperkirakan mencapai Rp61,65 triliun. Seluruh pembiayaan direncanakan bersumber dari APBN dan dialokasikan secara bertahap mulai 2025 hingga 2029.










