TVRINews, Jakarta
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto mengingatkan masyarakat agar tidak panik menghadapi isu potensi gempa besar atau megathrust yang disebut-sebut bisa memicu tsunami. Menurutnya, yang terpenting bukanlah menakuti diri sendiri, melainkan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan bencana tersebut.
“Fenomena megathrust memang benar ada dan berpotensi terjadi di beberapa wilayah rawan di Indonesia, termasuk pesisir selatan Jawa. Namun, tidak ada yang bisa memastikan kapan itu akan terjadi. Jadi tidak perlu membesar-besarkan isu ini hingga menimbulkan ketakutan di masyarakat,” ujar Suharyanto dalam keterangan yang dikutip, Rabu, 5 November 2025.
Ia menjelaskan, pemerintah bersama lembaga terkait telah melakukan berbagai langkah antisipatif untuk memperkuat kesiapan menghadapi bencana. BNPB, bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejak tahun 2020 telah memasang berbagai perangkat deteksi dini gempa dan tsunami di sejumlah titik rawan, terutama di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa.
“Sejak 2020 sampai sekarang, BNPB dan BMKG sudah menempatkan alat pemantau di berbagai lokasi yang berpotensi menjadi pusat gempa. Dengan sistem ini, peringatan dini dapat lebih cepat diterima masyarakat,” jelasnya.
Selain pemasangan alat deteksi dini, BNPB juga aktif memberikan pelatihan kesiapsiagaan kepada masyarakat desa di kawasan rawan bencana, termasuk di wilayah Kebumen, Jawa Tengah. Warga dilatih untuk mengenali tanda-tanda bahaya, memahami jalur evakuasi, serta mengetahui langkah yang harus diambil ketika peringatan bencana dikeluarkan.
“Saya yakin di Kebumen sudah ada beberapa desa yang dilatih. Warganya sudah tahu harus bergerak ke mana, siapa yang memimpin evakuasi, dan apa yang dilakukan ketika peringatan dikeluarkan,” ungkap Suharyanto.
Ia menilai peningkatan pemahaman masyarakat menjadi faktor penting dalam meminimalkan korban saat bencana terjadi. Ia mencontohkan, pada peristiwa tsunami masa lalu, banyak warga yang justru berlari ke arah laut ketika air surut karena belum memahami tanda-tanda bahaya.
“Sekarang masyarakat sudah lebih paham. Kalau air laut surut, mereka tahu itu tanda bahaya dan segera menjauh dari pantai,”ucapnya.
Suharyanto menegaskan, kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari budaya masyarakat di wilayah rawan bencana. Ia mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan komunitas lokal, untuk terus menumbuhkan kesadaran dan disiplin dalam menghadapi potensi bencana.
“Kita memang tidak bisa menghentikan bencana alam, tapi kita bisa memastikan bahwa masyarakat siap dan tahu apa yang harus dilakukan,” tegasnya.










