TVRINews – Jakarta
Pemerintah Pacu Hilirisasi Mineral dan Jamin Keandalan Pasokan Energi Nasional
Pemerintah Indonesia membidik penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) sebesar Rp165 triliun. Target tersebut melampaui ketetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar Rp136,18 triliun, seiring langkah akselerasi hilirisasi mineral serta penguatan rantai pasok energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa optimisme peningkatan pendapatan negara didasari atas realisasi penerimaan yang solid. Hingga kuartal ketiga, realisasi PNBP sektor ESDM telah menembus angka Rp127,71 triliun atau setara 93,78 persen dari target APBN.
"Pencapaian ini menjadi fondasi utama dalam memperkuat ketahanan fiskal serta menopang pembiayaan subsidi energi nasional. Target Rp165 triliun diproyeksikan memberikan surplus hingga Rp30 triliun untuk mendukung stabilitas ekonomi," ujar Bahlil dikutip Sabtu 24 Oktober 2026.
Lompatan Industri Hilir dan Lifting Migas
Peningkatan pendapatan negara tercapai meski pemerintah menerapkan kebijakan penataan dan pembatasan volume produksi batu bara. Efisiensi tata kelola komoditas terbukti mampu meningkatkan nilai jual ekspor secara keseluruhan.
Di sektor pertambangan mineral, dari 14 fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) terintegrasi yang direncanakan, sebanyak lima fasilitas telah beroperasi penuh dengan total nilai investasi mencapai 7,8 miliar dolar AS. Pemerintah kini mengarahkan fokus pengembangan pada industri rantai pasok lanjutan, mulai dari manufaktur prekursor, katoda, hingga sel baterai kendaraan listrik.
Pada sektor hulu minyak dan gas bumi, upaya restrukturisasi berhasil mencatatkan peningkatan produksi siap jual (lifting) minyak menjadi sekitar 605,9 ribu barel per hari. Capaian ini membalikkan tren penurunan produksi nasional yang sempat berlangsung selama satu dekade terakhir.
Jaminan Ketahanan Energi dan Transformasi Transisi
Dalam laporan kinerja pemerintah, Menko Bahlil memastikan ketersediaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional berada dalam kondisi aman. Ketahanan stok BBM jenis Pertalite terjaga di kisaran 16 hingga 18 hari kedepan, sementara jenis BBM nonsubsidi dan LPG nasional berada di atas standar minimum keselamatan pasokan.
Langkah strategis juga dicapai melalui penghentian impor bahan bakar jenis Solar CN48, seiring optimalisasi kapasitas pengolahan dalam negeri. Untuk mengantisipasi hambatan distribusi akibat cuaca ekstrem dan letak geografis, pemerintah menerapkan skema pengadaan langsung antar-pemerintah (government-to-government) lewat mekanisme Badan Layanan Umum (BLU).
"Seluruh capaian di sektor energi dan mineral diposisikan sebagai pilar transisi menuju industri hijau dunia, dengan tetap mewajibkan pelaku usaha mematuhi aturan pemenuhan kebutuhan domestik, keselamatan kerja, serta reklamasi lingkungan secara berkelanjutan," pungkas Bahlil.










